Wednesday, September 23, 2020

Pengalaman Hidup Yang Luar Biasa

Waktu saya mengikuti suami saya dan pindah dari Kanada ke Indonesia, maka saya harus mempelajari banyak hal yang baru. Hal-hal yang baru yang saya maksudkan adalah saya berada di negara Indonesia dimana saya tidak mengerti bahasa Indonesia maupun budayanya. Tambahan pula, saya harus tinggal jauh dari keluarga saya dan teman-teman lama saya yang tercinta yang ada di Kanada. Tatkala saya sudah di Indonesia dan mengalami berbagai macam tantangan yang berat ini, membuat saya berpikir di dalam hati saya, "Apakah saya bisa merasa bahagia di dalam tempat yang baru ini?"

Saya mengingat satu peristiwa yang terjadi tidak lama setelah saya tiba di Kupang, Indonesia. Ada sepupu dari suami saya yang datang mengunjungi kami di rumah. Suami saya memperkenalkan saya kepada saudara itu dan sebaliknya saudaranya memperkenalkan diri kepada saya. Lalu kami bertiga berdiskusi sementara suami saya menjadi penerjemah bagi saya supaya saya bisa mengikuti diskusi itu. Setelah beberapa menit, suamiku menuju ke belakang. Saya bersama sepupu kami itu tiba-tiba tidak bicara apa-apa lagi, oleh karena saya belum bisa bicara bahasa Indonesia, dan dia juga tidak bisa bicara bahasa Inggris. Akan tetapi, saudara kami itu mengetahui satu dua kata bahasa Inggris yang dia ingat dari waktu dia belajar di sekolah dulu. Jadi karena merasa kurang enak dengan tidak bicara apa-apa, maka dia mencoba berbicara bahasa Inggris sama saya. Tetapi saya justru tidak mengerti apa-apa yang dia katakan kepada saya. Melihat itu, dia mencoba lagi, tetapi masih sama. Dia berusaha berulang kali agar ada percakapan bersama, tetapi tetap saya tidak mengerti apa yang dia katakan. Ada satu kata yang saya pahami yang dia sebutkan berulang-ulang kali, yaitu: "Aduh... Aduh..." Selanjutnya saudara kami itu melanjutkan kata-katanya dalam bahasa Indonesia yang lain dengan berkata: "Payah ini. Payah." Saya juga menjadi bingung dan hati saya menjadi campur aduk di antara mau menangis karena tidak tahu bicara atau mau ketawa karena melihat kebodohan saya sendiri. Syukurlah, tiba-tiba suami saya kembali ke ruang tamu itu. Ternyata, dia sedang duduk di belakang ruangan sambil menahan rasa tawa karena situasi yang lucu itu! Sampai sekarang kami masih menceriterakan peristiwa itu berulang-ulang kali sambil tertawa berbahak-bahak. Tetapi, waktu itu saya merasa sedikit kawatir dan takut sambil berkata di dalam hati saya: "Apakah saya akan mendapat kesulitan begini terus-menerus?"

Saya juga mengingat  waktu ibu-ibu di gereja meminta kepada saya untuk memimpin ibadat kaum wanita. Saya terkejut karena saya baru di Indonesia kira-kira tiga bulan jadi belum fasih dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi suami saya menjelaskan bahwa ibu-ibu itu menghormati saya dan kalau saya menolak permintaannya, maka bisa saja mereka merasa tersinggung. Wah! Saya merasa berada dalam kesulitan! Tetapi saya mendapat solusi bagi saya yaitu saya harus menulis semua penjalasan Firman Tuhan itu di dalam bahasa Inggris lalu suami saya menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia untuk saya. Lalu saya membawa kertas-kertas saya itu ke tempat ibadah kaum wanita lalu saya membaca tulisan itu. Ibu-ibu merasa senang dan saya merasa legah. Tetapi satu atau dua bulan kemudian mereka meminta saya lagi! Waktu itu saya men-challenge diri saya dengan menulis semuanya di dalam bahasa Indonesia lalu suami saya meng-edit tulisan itu. Wow! Ternyata ada banyak coret menyoret di atas tulisan saya, karena begitu banyak kesalahan yang saya buat. Terpaksa saya harus menulis ulang dengan rapi baru saya membawa kertas saya ke tempat ibadah kaum wanita lalu saya membacanya. Kali ketiga,saya menulis semua renungan itu dan seperti biasa suami saya meng-editnya, akan tetapi saya mengambil keputusan untuk meninggalkan kertas renungan saya itu di rumah dan hanya membawa poin-poin saja. Dengan demikian, saya terpaksa tidak bisa membacanya saja tetapi harus berbicara saja dalam bahasa Indonesia dengan kamampuan yang ada. Kalau saudara-saudara pernah mencoba membawa renungan dalam bahasa yang lain, maka saudara bisa bayangkan sendiri apa yang saya maksudkan disini. Wow, betapa sulitnya! Akibat dari keberanian saya ini membuat saya sendiri menjadi stress dan grogi. Tatkala saya mulai membawa renungan itu jantung saya mulai berdebar dan keringat yang besar-besar keluar dari tubuh saya.....  Tatkala saya selesai renungan saya dan  berkata "Amin" beberapa ibu langsung memberikan tisu kepada saya agar saya bisa membersihkan waja saya yang penuh dengan keringat itu.

Selanjutnya tentang perayaan Hari Natal. Saat pertama saya merayakan Hari Natal di Kupang saya merasa bahwa hari Natal itu sangat berbeda dengan semua Hari Natal yang pernah saya merayakan sebelumnya di Kanada. Biasa di Kanada tatkala Hari Natal tiba, terjadi pada musim dingin jadi banyak salju yang jatuh. Akibatnya semua tanah dan pohon serta tumbuh-tumbuhan yang sebelumnya berwarna coklat karena musim kering berubah menjadi putih dan menjadi indah sekali dipandang mata--dimana-mana putih sejauh mata memandang dan lampu-lampu Natal berwarna-warni memberi berbagai refleksi di atas salju putih itu. Tetapi di saat saya merayakan Natal di Kupang pada bulan Desember, ternyata PANAS sekali. Sungguh suasananya jauh berbeda dari yang saya alami sebelumnya di Kanada. Akibatnya saya tidak mersasa suasana Natal itu. Saya merindukan keluarga saya yang pasti sedang berkumpul bersama-sama sambil merayakan hari besar di Kanada. Saya bertanya dalam hati saya, "Bagaimana saya bisa merayakan Hari Natal di tempat ini? Apakah saya akan merasa bahagia dengan situasi perayaan Natal ini?"

Poin yang lain yang membuat saya kaget berhubungan dengan kematian aliran listrik. Orang-orang di Kupang sudah biasa mengalami pemadaman listrik ini, bahkan listrik ini bisa padam berjam-jam. Kadang-kadang di tengah malam. Tetapi bagi kami orang barat, kami tidak biasa dengan pangalaman pemadaman itu. Jadi kalau listrik padam di tengah malam -- aduh...ampun!-- saya merasa panas sekali saat itu karena tidak bisa memakai kipas angin ataupun AC. Yang lebih memperparah situasi lagi, adalah saat malam hari itu banyak nyamuk yang datang berterbangan dengan memberikan bunyi bising di telinga saya. Aduh... Aduh...! Tatkala saya sedang mengandung anak saya yang pertama, saya merasa kadang-kadang saya tidak bisa bertahan lagi. Suatu saat, tatkala saya sudah mengandung sekitar delapan bulan dimana saya sedang mandi, tiba-tiba listrik padam.... Kali ini saya bukan saja mendengar suara bising dari nyamuk-nyamuk, tetapi ditambah dengan bunyi kecoak-kecoak yang berlari dekat kaki saya. Tetapi saya tidak bisa menghindar dari mereka karena saya tidak bisa melihat mereka di dalam kegelapan itu. Karena saya tidak biasa dengan kecoak di Kanada, maka saya merasa ngeri dan takut sekali. Lalu saya melompat ke atas bak mandi dan mulai menangis seperti anak kecil!  

Itu adalah beberapa ceritera yang saya ingat waktu saya baru datang di Indonesia. Sekarang setelah saya berada lama di Indonesia, saya merasa lucu dan tertawa sendiri mengingat peristiwa-peristiwa itu. Tetapi waktu terjadi itu, saya tidak bisa tertawa atau merasa lucu dan saya merasa tidak bahagia. Hal-hal itu membuat saya harus merefleksikan dan merenungkan tentang arti bahagia yang sebenarnya. Misalnya, sebelumnya saya berpikir kalau pemandangan salju yang putih, lampu-lampu Natal yang indah dan lain sebagainya yang membuat saya bahagia di waktu Natal. Tetapi sebenarnya saya sudah lupa arti Natal yang sejati yang memberikan saya bahagia yaitu tentang kedatangan Sang Juruselamat ke dunia. Tatkala saya merenungkan itu baru saya benar-benar merasa berbahagia. Saya juga belajar banyak hal tentang bersandar kepada Tuhan. Lewat Firman Tuhan saya belajar lebih dalam tentang bagaimana bersandar dan percaya kepada Tuhan saja, tatkala saya belum fasih dalam bahasa Indonesia, dan waktu saya sering keliru atau membuat kesalahan dalam budaya Indonesia. Waktu itu saya sering membaca Filipi 4:6 sampai 7, di mana rasul Paulus berkata, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu  dalam Kristus Yesus." Saya benar-benar mendapat pengalaman yang luar biasa yang kadang-kadang membingungkan saya tetapi Firman Tuhan itu mengingatkan saya bahwa saya selalu bisa membawa semua itu kepada Tuhan dan Dia akan menolang saya. Puji Tuhan Dia selalu setia menolong saya. Tanpa saya sadari saya sudah berada di Indonesia selama 21 tahun.

5 comments:

  1. Puji Tuhan.....pengalaman yg sngat indah

    ReplyDelete
  2. Waooo. Ini adalah pengalaman yang sungguh luar biasa mom. Ima sendiri sangat bersyukur membaca blog ini yang walaupun ada beberapa bagian yang Ima rasa lucu, tetapi itu sangat memberkati��. Ima juga senang karena Ima melihat bahwa mom terus mencoba sesuatu hal yang mom belum ketahui. Waooo. Itu sesuatu hal yang sungguh luar biasa. I'm proud of you mom������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Adik Ima...💜 Semua hormat dan kemuliaan bagi Tuhan.

      Delete
  3. Waooo. Ini adalah pengalaman yang sungguh luar biasa mom. Ima sendiri sangat bersyukur membaca blog ini yang walaupun ada beberapa bagian yang Ima rasa lucu, tetapi itu sangat memberkati��. Ima juga senang karena Ima melihat bahwa mom terus mencoba sesuatu hal yang mom belum ketahui. Waooo. Itu sesuatu hal yang sungguh luar biasa. I'm proud of you mom������

    ReplyDelete

The Truth About Me

It dawned on me one day recently, that my sense of worth was tied up with a ton of "must do's" and "must not do's...