Thursday, October 22, 2020

Hidup Yang Bermakna -- Bagian Ke2

    Setalah membaca artikel saya yang terakhir tentang kehidupan yang bermakna, ada seorang subscriber merasa sedikit bersalah lalu menyatakan kepada saya demikian: "Setelah saya membaca tulisan ibu, saya berpikir bahwa kehidupan saya akan menjadi kurang bermakna jika hidup saya terlalu sibuk." Saya merenungkan pernyataan itu beberapa waktu, lalu saya mengambil keputusan untuk menulis sebuah artikel lanjutan tentang hidup yang bermakna.

    Memang benar, kehidupan kita akan cenderung menjadi kurang bermakna kalau kita terlalu sibuk. Namun, itu bukan berarti bahwa kita sama sekali tidak boleh sibuk. Jadi hidup yang bermakna atau kurang bermakna tidak tergantung pada berapa banyak kesibukan kita. Ada sesuatu yang lain yang menentukan hidup kita bermakna atau kurang bermakna. Tergantung bagaimana kita mengatur kesibukan kita. Dan setiap kita harus mengevaluasi diri sendiri dan hidupnya sendiri.

    Setelah membaca empat kitab yang pertama di Perjanjian Baru (yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) saya berkesimpulan bahwa Tuhan Yesus sangat sibuk tatkala Dia hidup di muka bumi ini sebagai manusia. Kesibukannya, antara lain, mengajar murid-muridNya secara pribadi, berkhautbah kepada banyak orang di berbagai tempat, berbicara dengan orang-orang secara pribadi tatkala mereka mencariNya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang Farisi yang mencobaiNya, menyembuhkan banyak orang yang sakit, mengusir roh-roh jahat, membangkitkan orang-orang dari kematian, dan membuat banyak mujizat yang lainnya. Tuhan Yesus membuat semua itu dengan satu tujuan yaitu untuk menunjukan diriNya sebagai Mesias yang dijanjikan dan untuk mengarahkan pikiran orang-orang kepada penyalibanNya di kayu salib serta semua perkerjaan dan penderitaanNya di kayu salib. 

Namun di tengah-tengah kesibukannya, Tuhan Yesus masih mengambil waktu untuk pergi ke tempat yang sunyi agar supaya Dia bisa berdoa kepada BapaNya di surga. Markus 1:35 berbunyi demikian: "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."  Luar biasa sekali saudara-saudari! Saya terpaksa berpikir bahwa kalau Tuhan Yesus yang adalah Anak Allah perlu waktu yang khusus untuk berdoa sendiri kepada BapaNya, apalagi saya! Memang, kalau kita tidak mengambil waktu yang cukup untuk berbicara dengan Bapa surgawi kita dan untuk membaca FirmanNya yang membawa kehidupan, kita pasti akan hilang energi, semangat dan fokus. Kita juga akan kehilangan kemampuan untuk berpikir -- dan berbuat -- hal-hal yang positif dalam kehidupan kita.

    Saya membaca satu artikel yang berbunyi: "Is Jesus missing from your busy life?" Dalam bahasa Indonesia terjemahan bebasnya: Adakah Yesus di dalam kesibukan hidup saudara? Dalam artikel tersebut Allison Moore sebagi penulisnya berkata bahwa untuk mendapatkan hidup yang bermakna sangat simpel yaitu selalu menghadirkan Yesus dalam segala kesibukan hidup. Ini adalah website yang bisa saudara buka untuk membaca artikel yang saya sebutkan diatas: https://newspring.cc/articles/is-jesus-whats-missing-from-your-life. 

    Allison mencatat delapan cara yang sangat menolong untuk menghadirkan Yesus di dalam kesibukan hidup kita yaitu: berdoa, mendengar (Roh Kudus), membaca Alkitab, mengasihi orang lain dengan benar, melayani orang lain, sering memuji nama Tuhan Yesus, dan bersyukur kepada Tuhan. Kalau jadwal kita begitu padat dengan kegiatan-kegiatan kita (meskipun mungkin kegiatannya bersifat rohani) sehingga kita tidak mempunyai waktu untuk memenuhi delapan hal yang diatas, maka kehidupan kita akan menjadi benar-benar kurang berarti. Akan tetapi, kalau kita, meskipun sangat sibuk, namun kita mampu mengambil waktu untuk berdoa kepada Bapa surgawi kita, seperti yang dibuat oleh Tuhan Yesus, maka hidup kita menjadi bermakna. Kenapa begitu? Karena berdoa dan membaca Firman Tuhan menolong kita menjadi berfokus untuk memuliakan nama Tuhan dan melayani orang lain.

    Saya tidak tahu tentang kehidupan saudara, tetapi saya sendiri ingin mempunyai suatu kehidupan yang lebih berarti. Hidup kita berbeda antara satu dengan yang lainnya: situasi yang berbeda, budaya yang berbeda, keluarga yang berbeda, talenta-talenta dari Tuhan yang berbeda, serta panggilan yang berbeda. Akan tetapi, jikalau saudara dan saya mempunyai kehidupan yang bermakna, maka kehidupan kita akan kelihatan sama. Mengapa? Karena kita sama-sama memiliki akar dan dasar hidup yang sama dalam Kristus. Kolose 2 ayat 6 dan 7 berbunyi demikian: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan bangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah tegu dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." 

Kiranya Firman Tuhan dan Roh Kudus membimbing kita semua agar kita makin mengetahui cara yang diinginkan Tuhan dalam hidup kita, dan makin lama makin mempunyai hidup yang luar biasa berarti secara surgawi. Kiranya nama Tuhan dipuji di dalam hidup kita masing-masing!

Wholesome Living -- Part 2

    After my last blog on wholesome living, a reader (perhaps a little guiltily) made the following comment: "I can only conclude that being too busy is not wholesome living..." I chewed on that statement for the next 24 hours and then decided to write a second blog on wholesome living. I believe that our lives can certainly become unwholesome if we are too busy. But I also believe that just because we have a busy life does not inherently mean that it is unwholesome. Each of of us will have to evaluate their own life, daily schedule, and the activities that they are involved with, and then decide whether or not their life is wholesome.

    I think we can conclude after reading the first four books of the New Testament that Jesus Himself was a busy man when He was on earth. He healed the sick, taught His disciples privately, preached to crowds of people, had one-on-one conversations with people who were searching, answered questions from the Pharisees and the teachers of the law who were trying to trap Him by His words, healed many sick people, drove out demons, raised people from the dead, and performed various other miracles. He did all of those things for one purpose: to show people that He was the promised Messiah, and to point people to the work that He was going to do for them on the cross. Yet, in the midst of all His busy-ness He still manged to carve out time to be alone and pray. Mark 1:35 says, "Very early in the morning, while it was still dark, Jesus got up, left the house and went off to a solitary place, where He prayed." That just blows my mind away. If Jesus -- the Son of God -- needed to have that concentrated time alone with His Father, how much more do I need it?! If I don't get plenty of time to talk with my Father in Heaven and to read His life-giving Word, I am pretty sure that I will lose my energy and my focus in life and I will lose my ability to think (and act) positively... In short, I will lose the wholesomeness that is in my life. 

    In an article entitled, "Is Jesus missing from your busy life?", Allison Moore says, "The most abundant life is quite simple. The abundant life is more of Jesus" (https://newspring.cc/articles/is-jesus-whats-missing-from-your-life). She lists eight ways that would help us get "more of Jesus": be still, pray, listen, read the Bible, love others well, serve someone else, praise Jesus often, and give back. If our schedules are so filled with work, responsibilities, and "activities" or "programs" (whether of a religious nature or not) that we do not have time for those very important activities that Allison mentions, I think our lives may indeed be in danger of being unwholesome. However, if we are very busy, yet still have that "time alone" like Jesus did to maintain proper focus in life, and we are glorifying God and serving our neighbors by what we are doing (and not just driven by a desire to get rich or become famous) then that is also a wholesome life.  

    I don't know about you, but I would like to have a more wholesome and abundant life. On the outside, my life may end up looking very different from yours because we are in different situations, have different families, have different talents, and may also have different callings from God. But if we both have a wholesome life, then our lives will be similar in that they will both be rooted in Christ."So then, just as you received Christ Jesus as Lord, continue to live your lives in Him, rooted and built up in Him, strengthened in the faith, as you were taught, and overflowing with thankfulness" (Col.2:6+7). May His Word and the Holy Spirit guide each one of us to know more and more how He wants us to live out that wholesome and abundant life. And may He be glorified through it all! 

Wednesday, October 14, 2020

Hidup Yang Bermakna

Akhir-akhir ini saya berpikir banyak tentang kata "wholesome". Suami saya berpikir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yang bisa dipakai untuk menerjemahkan kata "wholesome" dengan persis. Yang paling dekat mungkin "hidup yang bermakna". Saya mau mencoba membagikan dengan saudara-saudara apa yang ada di pikiran saya. Saya berpikir bahwa ada banyak sekali perubahan di dunia dalam tahun-tahun terakhir akhibat teknologi yang berubah begitu cepat, dan oleh karena datangnya wifi yang lebih bagus, dan lain sebagainya. Saya berpikir bahwa banyak perubahan itu meskipun kelihatannya bagus, justru membawa hal-hal yang negatif ke dalam kehidupan kita dan membuat hidup kita menjadi kurang bermakna. Kalau saya punya kemampuan yang powerful maka saya ingin mempunyai suatu kehidupan yang berarti. 

Apa yang saya maksudkan dengan kehidupan yang kurang berarti? Saya pikir hidup yang kurang berarti terjadi tatkala kita begitu siiiiibuk di mana kita tidak mempunyai waktu untuk membaca Firman Tuhan dan berdoa. Kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang lain sehingga tidak ada cukup waktu untuk  isteri / suami / anak-anak / orang tua / kakak-adik. Akibatnya kualitas hubangan-habungan yang ada menjadi lemah. Di pihak lain, kurang baik juga kalau kita begitu sibuk dan akhibatnya kita tidak memperhatikan kesehatan kita sendiri sehingga kita tidak bisa menikmati apa yang kita memiliki karena kerja keras kita itu. Hal yang sama dengan kesibukan kita setiap hari yang hanya melihat semua posting orang di sosmed, akhibatnya kita mengetahui gerak-gerik semua orang, tetapi kita tidak pernah duduk bersama orang-orang itu dan berbicara lebih dalam dengan mereka. Saya sering melihat ada keluarga yang keluar untuk makan bersama di restoran atau pergi ke taman rekreasi untuk bermain-main bersama keluarga akan tetapi sayangnya pada saat yang sama saya melihat justru setiap orang memegang HPnya masing-masing dan bicara dengan orang yang lain! Saya berpikir, wah untuk apa keluar bermain-main sama keluarga kalau mau berkomunikasi dengan orang lain?! Itu juga menurut saya bukan sebuah hidup yang bermakna.

Dalam renungan saya, saya bertanya dalam hati saya: "Adakah arahan atau bimbingan dari Alkitab  tentang hidup yang berarti? Tiba-tiba saya diingatkan tentang kata Rasul Paulus di Filipi 4:8 yang berbunyi: "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Dari ayat ini saya merasa termotivasi untuk membuat beberapa perubahan di dalam hidup saya agar bisa menjadi berarti. Pertama-tama, saya membuat rencana yang jelas untuk membuang lebih banyak waktu untuk membaca Firman Tuhan dan berdoa secara pribadi. Dengan begitu saya akan teringat setiap hari bagaimana saya harus hidup dan akan teringat tentang kebahagiaan yang luar biasa yang kita memiliki dalam Yesus Kristus. Saya dan suami saya membuat keputusan untuk anak-anak kami agar segera mengurangi penggunaan HP dan atau laptopnya. Kami memutuskan secara bersama dan menyampaikan kepada mereka karena kami berpikir hal itu akan menajdi manis bagi hidup mereka meskipun mereka tentu tidak sependapat dengan kami. Harapan kami tatkala mereka jadi lebih besar mereka akan sadar tentang betapa penting dan manisnya keputusan kami itu. Kami juga membuat jadwal untuk berolah-raga bersama beberapa kali setiap minggu. Kami berpikir itu penting untuk kesehatan kami dan benar-benar baik untuk hubungan sebagai keluarga. Kadang-kadang kami hiking secara bersama sambil menikmati alam raya. Ini sangat indah dan mulia karena kita dapat menikmati alam semesta yang indah dan memuliakan Sang Pencipta saat kita menkmati keindahan alam itu.

Contoh-contoh ini saya berikan  bukan untu menajdi sebuah pola yang harus dibuat setiap hari, tetapi hanya untuk memberi motivasi kepada Saudara-Saudari. Karena kita masing-masing mempunyai kehidupan yang berbeda dan situasi yang berbeda. Semoga Saudara-Saudari bisa termotivasi dan bisa membuat sesuatu perubahan di dalam hidup saudara. 

Harapan saya dengan membaca tulisan saya ini hidup Saudara bisa menjadi lebih bermakna. Akhirnya kiranya kehidupan kita menjadi lebih benar, lebih mulia, lebih adil, lebih suci, lebih manis dan lebih patut di puji dan menjadi "persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah" (Roma 12:1). 

Demikianlah beberapa pikiran saya tentang hidup yang bermakna. Silahkan membagi pikiran saudara-saudara di bagian comment dibawa. Saya akan senang bila saya bisa membacanya!

Wholesome Living

I have been thinking a lot lately about the word "wholesome". I would like to share my thoughts with you. So I began to think how much life has changed in the last few years. These changes mostly took place because of rapidly changing technology and better internet, but also because of a faster-paced lifestyle, and therefore the availability of things like fast food and instant meals. I realized that these changes were not all good ones. As a result, if we are not careful our lives can actually be very superficial and not meaningful or wholesome at all. I don't know about you, but as far as it is in my power to do so, I would like to live a wholesome life...

So what in my opinion is unwholesome? I think it's unwholesome that we are often so busy "being busy" that we have very little quiet time to sit and read God's Word, to pray, and to just reflect for a few moments on how we are feeling. I also think it is unwholesome when our schedules are so tight that we have little time to spend with our spouse / children / parents / siblings and therefore to build strong relationships. It's also unwholesome when we work so many hours that our health suffers and we cannot enjoy the things we have worked so hard for. I think it's unwholesome when we religiously scroll through all our social media feeds every day and know lots of little details about people but rarely have time to sit down and have a heart-to-heart talk with any of those people. Recently I have seen families on outings, each member of the family holding his gadget and using it to "communicate" with other people in other places, while ignoring their beloved family members that they went on the outing with. In my opinion, that's very unwholesome.

In my musings, I wondered if the Bible has anything to say about wholesome living. I was reminded of Philippians 4:8 where it says, "Finally, brothers and sisters, whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable -- if anything is excellent or praiseworthy -- think about such things." So I went on a "quest" to find more lovely and admirable things for me and my family to be busy with. First of all, I decided it would be right for me to intentionally schedule in more time for personal Bible reading and prayer. In this way I can be reminded each and every day to keep the right focus in my life and be reminded of the great joy we have as followers of Jesus. I also decided that I needed more sleep so that I would be able to do more praiseworthy things -- as opposed to being grumpy or ill-tempered towards my family due to a lack of sleep. I and my husband also announced at a "family meeting" that the kids would have limits on the amount of time they spend on their screens. (Mind you, the kids did not think that that was an admirable thing to do, but some day we hope they will see eye to eye with us on this.) I also often listen to lovely Christian music and even some good classical music while doing housework. I even bought a bread-maker and now bake good, homemade bread for my family. I drink at least eight cups of water per day now, and encourage my family to do the same. We also regularly swim, play soccer, and hike in nature as a family in order to stay active, be healthy, and spend quality time together. 

In no way am I promoting these changes that we made in our family as a pattern or recipe for wholesome living. Everyone's life is different. Many of these things you may already be doing, while others might be impossible to implement in your life at this time. I also am not sharing these things with you in order to make you feel guilty. Baking your own bread, for example, might not be a possibility right now for you and you should not feel guilty about that. (I couldn't imagine baking my own bread every day when my kids were little or even while I was teaching at school.) But I have shared my ideas as motivation only, to perhaps inspire you to think of your own ideas. Perhaps there is an area of your life that could be more wholesome. Perhaps there are talents that God has given you that you have never developed or a hobby that you have been interested to pursue but never thought you had time for. Those things might actually enrich your life in a way that you had not thought possible before. That's how come I started blogging. I always liked writing but never seemed to have the time for it. I feel that my life is more wholesome now that I have intentionally scheduled in a little time each week to write a blog such as this one. And hopefully your life will also be a little more enriched by reading them.    

I have shared with you some of my thoughts about wholesome living. Perhaps you could share your own ideas on this topic. I would love to read them! Please type in your thoughts on what wholesome living means to you, in the comments section below. 

Wednesday, October 7, 2020

Tertawa Adalah Obat yang Manjur

    Minggu lalu saya menulis di blog saya tentang hal yang sangat sedih dan membuat banyak air mata saya bercucuran karena saya mengingat kembali semua hal yang menyedihkan itu. Minggu ini saya ingin menulis sesuatu yang lebih ringan dan lucu agar supaya ada balance untuk saya dan saudara-saudara dalam menikmati tulisan-tulisan saya, Saya sadar bahwa kadang-kadang di dalam hidup saya, saya sangat tertolong jikalau saya bisa tertawa dengan riang mengenai diri saya sendiri atau tentang situasi hidup yang sedang saya hadapi.

    Hidup sebagai seorang asing di Indonsia, terkadang menimbulkan banyak hal yang lucu. Sering kali kita harus tertawa sendiri. Tatkala saya pertama kali datang dari Kanada sebagai seorang ibu yang baru saja menikah dan setelah tinggal beberapa lama di Indonesia, saya merasa stress berhubungan dengan topik makan minum bersama di meja. Sebagai istri yang baik, saya setiap hari bekerja keras untuk memasak dan menyediakan makanan yang panas untuk suami saya. Namun, sayangnya setiap kali kami bersiap-siap untuk duduk di meja makan untuk menikmati sajian makanan panas yang sudah saya siapkan itu, tiba-tiba saya kaget karena ada tamu yang datang di rumah. Saya merasa bingung dan tidak tahu apa yang saya harus buat. Di Kanada, dan di negara-negara barat lainnya, biasanya kalau ada tamu yang mau datang berkunjung di rumah kita, biasanya tamu itu harus menelepon lebih dahulu sebelum dia datang, tujuannya agar kami mengetahui maksudnya dan menyiapkan diri sebelum tamu itu datang. Tetapi di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur, tamu bisa datang kapan saja, tanpa harus memberitahukan terlebih dahulu. Suami saya menjelaskan kepada saya bahwa tamu di Indonesia sangat dihargai dan meskipun kita harus makan, kita harus menunda jam makan kita itu sampai tamu itu sudah pulang baru kita makan atau kita mengundang tamu itu makan bersama kita. Pertama kali tatkala ada tamu datang tepat jam makan, saya berbisik di telinga suami saya, sambil berkata: "Mungkin mereka bisa makan bersama-sama dengan kita?".Tetapi suami saya menjelaskan kepada saya bahwa tamu ini bukan keluarga yang dekat dan belum terlalu akrab. Jadi kalau kita mengundang mereka, maka bisa saja mereka akan menggunakan perasaan dan akan menolak undangan kita. Saya menjadi bingung karena saya sudah masak dan makanan sudah disiapkan di meja makan. Saya mencoba mendesak suami saya tetapi dia berkata, "Tidak apa-apa,. Simpan saja makanan itu dan tatkala tamu itu sudah pulang baru kita makan bersama." Saya menjadi tambah bingung dan stress dengan budaya ini. Dalam hati saya saya berkata: "Wah! Kalau tamu ini berlama-lama maka saya harus memanaskan lagi makanan-makanan itu." 

    Ternyata betul, tamu itu mengambil waktu yang agak lama dan saya harus memanaskan lagi makanan-makanan itu. Malam berikutnya, peristiwa yang sama terjadi lagi. Saya harus panaskan lagi makanan kami. Setelah saya panaskannya -- Aduh...! Hal yang sama terulang lagi. Tamu terus datang! Ini terjadi berulang-kali siang dan malam. Akhirnya suatu malam saya tidak bisa menahan emosi saya lagi karena saya sudah capek dengan terus memanaskan makanan yang ada. Saya menjadi marah! Saya dan suami saya mulai bertengkar. Suami saya sangat bingung dan berkata: "Kenapa kamu harus terus panaskan makanan itu berulang kali?" Jawab saya dengan heran: "Masa Pak mau makan makanan yang dingin?!" Lalu dia merespon, "Tidak apa-apa! Kami sudah biasa makan begitu." Saya menatap dia dengan sangat heran, lalu tiba-tiba saya tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan perbedaan budaya ini. Dalam hati saya, saya berkata: "Aduh! Pantas ibu-ibu disini tidak menjadi marah, karena mereka disini biasa makan yang dingin!" Malam itu, saya belajar tiga hal yang baru. Yang pertama, saya belajar bahwa bagi orang Indonesia, bersosial, berteman, berceritera bersama-sama itu lebih berharga dari pada apa pun, bahkan dari makan makanan yang segar dan panas. Kedua, saya belajar untuk menertawakan diri sendiri di saat-saat tertentu. Ketiga, saya belajar bahwa saya harus makan dengan cepat sebelum tamu datang secara tiba-tiba ke rumah karena saya tidak biasa makan makanan yang dingin!  😂

    Lalu lintas di Indonesia dan khususnya di lampu merah, adalah satu tempat yang sering kali membuat saya stress dan menjadi emosi. Saat saya berada di lampu merah dengan mobil saya dan saya berada di paling depan, sambil menghitung waktu yang ada di lampu merah itu, di mana tinggal beberapa detik lagi saya akan berjalan, ternyata saya mendengar klakson-klakson atau bunyi bel seakan-akan memberi perintah desakan agar saya segera melajukan mobil saya padahal jumlah detik belum lengkap dan lampu lalu lintasnya masih berwarna merah. Saya sungguh kaget. Saya berkata dalam hati saya: "Hey?? Masih merah kenapa mereka marah saya?!" Suami saya menjelaskan bahwa: "Ya sudah hampir hijau jadi semua bisa jalan." Saya menjawabnya: Tidak boleh! Kalau merah ya merah. Hijau, ya hijau." "Di Kanada saudara-saudara, kalau kita jalan tatkala lampu masih merah, biar tinggal tiga detik saja, maka sangat mungkin kita akan ditangkap polisi dan harus membayar denda di pengadilan. Bisa saja SIM kita diambil untuk sementara waktu. Berjalan di lampu merah itu hal yang sangat serius di Kanada. Jadi saya tidak suka kalau orang membunyikan bel ke saya tatakala saya merasa bahwa saya tidak bersalah. Akan tetapi saya belajar satu cara dalam menghadapi situasi itu yang sedikit lucu. Tatkala banyak mobil membunyikan belnya ke saya, saya sengaja tidak dengar apa-apa. Saya melihat ke kiri dan ke kanan sambil bernyanyi sambil menunggu lampu merah menjadi hijau. Lalu saya melajukan mobil saya pelahan-lahan. Setelah itu, saya bernyanyi dengan suara yang kuat melagukan lagu Indonesia Tanah Airku. Anak-anak saya berpilir saya sudah jadi gila tetapi hal itu menolong saya supaya saya tidak menjadi stress setelah kejadian di lampu merah tadi. 😂😂

    Saya harap saudara-saudara tidak salah paham dengan apa yang saya sampaikan di sini. Saya benar-benar mencintai negara Indonesia. Ada banyak hal yang saya suka bahkan sangat menghargai kehidupan di Indonesia. Yang paling pertama adalah orang-orang Indonesia begitu ramah dan baik dan sangat gampang berteman. Akan tetapi, sebagai orang barat yang mencoba menyesuaikan diri di Indonesia, pasti akan merasa culture shock karena budaya di Indonesia sangat berbeda dengan budaya di Kanada. Jadi tatkala kita menghadapi culture shock itu kita harus menyesuaikan diri kita dengan bijak. Bagi saya, humor dan tertawa, itu bisa sangat menolong saya seperti kata Amsal 17:22: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Tentu, kita tidak bisa selalu gembira tetapi kalau kita mampu menjadi gembira dengan membuat lelucon, maka itu akan menjadi obat yang mujarap. Alkitab berkata bahwa itu menjadi seperti obat untuk kita saat kita sedang sakit. Tatkala kita mampu melihat situasinya dalam perspektif yang baik, dan jika kita bisa berfokus di hal yang luar biasa besar maka kita akan mendapat "sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan" (1 Pet.1:8b). Sukacita itu hanya kita peroleh dalam Yesus Kristus. Mudah-mudahan, blog saya hari ini sudah memberikan beberapa obat yang manjur untuk saudara-saudara hari ini!

    Kalau saudara belum subscribe ke blog saya ini, dan saudara ingin diberikan notifikasi tatkala ada blog baru, maka saudara dapat tekan tombol "subscribe" di paling atas blog. Tinggal mengisi alamat email dan saudara akan dinotifikasi tiap kali kalau sudah ada blog yang baru. Kalau saudara ada tambahan pikiran atau ide yang ingin saudara tambahkan, silahkan menulis di tempat comment di bawa. Kiranya Tuhan memberkati saudara dan saya.

Laughter -- A Good Medicine

    Last week's blog was difficult to write and brought many tears as it reminded me of a very sorrowful time in my life. In order to maintain a  healthy balance, I thought it might be good to write about something lighter this week. In my life I have found more and more that it is helpful to be able to look on the bright side of things and even sometimes to laugh at myself or the situations that I find myself in.

    Life in Indonesia as an expat can sure be funny at times. Actually, sometimes you find yourself wondering whether you should laugh or cry! When I first moved to Indonesia, as a newly married young woman, I found myself getting more and more frustrated preparing hot meals. This was because I would try my best to have a hot meal ready at a reasonable time, only to have sudden visitors show up at our house before we had managed to eat it. I learned from my Indonesian husband that if the visitors were close relatives you could just add a few extra plates at the table and invite them to eat with you. (I learned quickly that for this reason, you should always cook more than your family would normally eat.) However, if the visitors were not close relatives then you just had to put the meal on hold until the visitors left. Being a Westerner, this was difficult for me to adjust to. In the first place, my logical Western mind reasoned, "What happens if you actually are quite hungry??" And secondly, I reasoned, "How many times can one re-heat a meal and still have something that resembled a meal??" 😕

    Well, after multiple times in which I faithfully re-heated a meal several times in one night, I could handle no more. I exploded. I think that was one of our first big "fights" as a married couple. My husband looked at me blankly, obviously not comprehending why I was so angry. "Why would you heat the food up anyway?" he asked incredulously. That's when I found out that most Indonesians couldn't care less if their food was hot or cold. Their social connections, good relationships, and great times talking together, are much more precious to them than eating a hot meal,. That was definitely one time when I felt that it would be much better to laugh my head off than to continue being angry. And I also learned to sit down and eat my supper real fast too -- because I did NOT wish to eat my supper cold!! 😂

    The immigration office is one place you learn real fast that it's better to laugh than to cry. Cuz if you don't, believe me you will end up with buckets full of tears! I remember one time in particular. After multiple trips to the immigration office for the two of us, my husband and I had figured out a better system. My husband would make the many trips back and forth to the immigration office alone. Then, when at long last the immigration staff required my signature and/or photo, then I would come along. That way, only my husband had to waste a lot of time. I could get some work done at home.

    That particular time, I was about eight months pregnant. My husband was trying to renew my visa before he left on his trip out of the province. He worked hard on it, tried to push the immigration officers to work more quickly, putting on his best smile and talking nicely with them. (I believe one of my brothers would call this practice "buttering up".) Finally, a day before his intended trip, my husband came home from the immigration office saying that all was set. All I had to do the next day was go in, sign my name and take home my visa. I thought, "Hmmm... Really? Sounds too simple..." 😳 But I went in the next day as instructed, taking with me one of my sisters-in-law. We informed one of the immigration staff that I was there, signed my name, and sat down to wait. And wait. And wait. After about an hour I was sick of waiting. I have to think fast, I mused, or we will be here all day! I got up, walked over to the office of the head of immigration, and knocked on his door... 

    I stood at the door of his office, gently rubbing my big pregnant belly and said in a pained voice, "Sir, please, I am so sorry but you know how it is when a woman is near the time to deliver a baby..." The man's head jerked up and he instantly barked out orders to his men, "Hey! Why did you not arrange this woman's visa?! Where are her papers?!" One of his men pulled my papers out from under the stack of papers in front of his boss. The head of immigration immediately stamped them, apologizing profusely, and sent us on our way within ten minutes' time. Before my sister-in-law and I even got to the car, we doubled over with laughter. Needless to say, we also laughed all the way home!!😂😂

    Intersections and specifically red lights in Indonesia often manage to get me riled up. When I am at a red light and happen to be the first or second car in line, and the count down timer gets to three seconds left, the cars behind me almost always start to beep at me. Now if you are from a Western country you will know that you will get into serious trouble if you start to drive while the light is still red, even if there happens to be only three seconds left. So this annoys me that I am following proper rules and getting beeped at for doing so. I have learned to have a sense of humor though, and at the same time still stick to my principles. If the cars behind me are all honking their horns, I will look casually out the window, whistle a tune, tap my fingers on the rolled down car window, and pretend that I do not hear a thing. Then as the light changes to green I go peacefully on my way. 😂 However, as I often do when some Indonesian custom or habit particularly annoys me, I will usually sing the Indonesian National Anthem very loudly all the way home. If my kids are with me at these times they think I am a little cuckoo, but somehow it relieves my stress. "Indonesia!! Tanah airku!!" I bellow at the top of my lungs. 😂😂

    Don't get me wrong, I really do love Indonesia. There are many things that I love about this country, most particularly the warm and friendly people that live there. But there are inevitably also clashes. Times when I feel annoyed, because things are so different from the culture that I was raised in. And then humor and laughter can sometimes be very helpful to get me through those times. Proverbs 17:22 says, "A cheerful heart is good medicine, but a crushed spirit dries up the bones." Please do not misunderstand me, it is not possible to always be cheerful and in certain situations may not even be healthy, but when it is possible, the Bible says, it is like taking good medicine when you are sick. Besides, when we are able to put these relatively minor events into perspective and focus on the "inexpressible and glorious joy" (1 Pet.1:8b) that we have in Christ Jesus, it becomes even easier to have that cheerful heart. Hopefully this blog has given you some good medicine for your soul today!

    If you have not subscribed yet to this blog spot, and you would like to be notified when new blogs are posted, please click the subscribe button at the very top of my blog page and add in your email address. Also, if you have any thoughts or ideas that you would like to share on today's topic, please comment below. Blessings to you all!

 

Thursday, October 1, 2020

Dia Sudah di Sorga

    


    Tatkala saya menulis blog ini di rumah saya, wajah anak saya yang manis ini sedang terpampang di tembok rumah saya sambil menatap saya yang sedang menulis blog ini. Bagaimana sifatnya atau karakternya anak saya ini?  Hampir semua fotonya, dia selalu terlihat dengan senyum dan tertawa manis. Dia jarang rewel ataupun menangis. Kalau ada orang baru yang datang ke rumah, dia sering kali menatap orang itu sampai orangnya melihatnya, lalu dia memberikan senyum manisnya. Banyak orang memperhatikan sifatnya itu, bahkan ada sebuah koran yang menulis tentang dia dengan berkata bahwa dia seperti seorang "malaikat yang turun dari sorga".

    Jadi anda pasti bertanya, apa yang terjadi? Singkatnya, anak saya jatuh sakit, dia didiagnosa secara tidak benar, lalu diagnosa yang pertama dan salah itu diperbaiki. Lalu diagnosa yang benar itu mengharuskan anak saya itu untuk segera dioperasi karena ususnya bermasalah. Akibatnya sebagian besar dari ususnya harus dipotong. Operasi itu berhasil, dan setelah dioperasi, dia harus mendapat transfusi darah. Sayangnya, transfusi darah yang diberikan kepadanya tidak sesuai dengan SOP (Standard Operational Prosedure). Kira-kira sepuluh menit kemudian, di depan mata saya, suami saya, dan anak saya yang sulung, anak kami yang manis itu menjadi kejang-kejang dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Usuha para dokter dan perawat tidak bisa menyelamatkan anak saya. Mengingat sejarah yang sangat sedih itu, membuat air mata saya mengalir sekarang.

    Saya masih ingat moment itu tatkala suami saya keluar dari ruang operasi dan katakan "Dia sudah di sorga." Saya mendengar kata-katanya dengan jelas, tetapi saya masih mengharap bahwa saya telah mendengar informasi yang salah. Tatkala saya sadar bahwa itu memang benar, dan bahwa saya tidak akan menggendong anak saya lagi, hati saya merasa disobek-sobek. Memang, bulan pertama itu hati saya terbolak-balik diantara merasa shock dan tidak percaya bahwa dia sudah meninggal dan hati saya merasa hancur berkeping-keping. Selama satu tahun, saya merasa seperti saya menggunakan kaca mata yang lain dari pada yang sebelumnya. Saya seperti melihat dunia, akan tetapi dunia yang saya lihat menjadi gelap semuanya. Setelah satu tahun lewat, saya mengingat suatu hari dimana saya keluar dari rumah sambil berjalan kaki. Saya ingin pergi ke sekolah untuk mengajar anak-anak saya. Tiba-tiba saya kaget melihat matahari bersinar. Saya melihat sekitar saya dan ternyata juga ada bunga-bunga yang berwarna-warni dan saya mendengar burung-burung berkicau. Saya benar-benar kaget melihat itu semua. Memang ciptaan Tuhan itu sudah berada di situ setiap kali saya keluar dari rumah saya, tetapi selama satu tahun saya tidak melihat indahnya hasil ciptaan Tuhan itu. Maksud saya, bahwa akhibat dari meninggalnya anak saya itu, membuat saya tidak ingin menikmati kebahagiaan termasuk keindahan ciptaan Tuhan. Pada hari itu saya tiba-tiba merasa kehadiran Tuhan sangat dekat dengan saya dan saya merasa sangat bersyukur atas kesetiaan Tuhan menjaga dan memelihara saya.

    Sebelum anak saya meninggal, saya selalu takut kehilangan salah satu dari anak-anak saya. Tuhan mahatahu dan Dia tahu bahwa dengan mengijinkan hal yang saya takuti, justru itu akan membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya tidak akan pernah melupakan anak saya yang meninggal tatkala masih kecil itu, dan kadang-kadang ada waktu (seperti sekarang tatkala saya mengingat-ingat peristiwa kematian anak saya itu) air mata masih mengalir. Tetapi puji Tuhan, sekarang saya bisa berkata bersama Ayub: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayub 1:21b) 

Allah kita berkuasa dan mengetahui semua yang terjadi di dalam hidup kita karena Dia mengontrol semua di bumi ini. Dia juga sangat mengasihi kita dan peduli tatkala kita lagi berduka atau dalam kesedihan yang mendalam. Para medis bisa membuat kesalahan, tetapi Tuhan kita tidak akan pernah membuat satu titik kesalahanpun. Dia mempunyai alasan yang mulia, mengapa Dia mengambil anak saya yang masih berumur sepuluh bulan itu. Dia juga tahu bahwa saya dan keluarga saya akan bertahan dalam kesusahan itu -- bahkan kami akan menjadi lebih kuat secara spiritual. Dia sendirilah yang menyediakan kekuatan yang kami perlukan. Karena seperti kata rasul Paulus dalam Roma 8:28: "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia."

    Setiap orang menghadapi dukacita dengan cara yang berbeda. Saudara mungkin mempunyai ceritera atau pengalaman duka yang berbeda dengan apa yang saya sampaikan di blog saya ini. Oleh karena itu, bagi siapa saja yang membaca blog saya ini dan mengalami dukacita, silahkan mengambil waktu untuk bersama-sama kita berbagi-bagi ceritera dan perasaan kita satu sama yang lain untuk saling memberikan hiburan dan kekuatan rohani dan jiwa dan teristimewa untuk kemuliaan nama Tuhan.

 Silahkan share di bagian "comments" dibawah ini.

He is in Heaven

      


As I write this blog post in my house, this beautiful face looks down at me from my wall. What was he like? An ever-smiling, rarely complaining, beautiful baby boy. He was so precious. He melted people's hearts very soon after they met him because he would often look at them until they made eye contact, then give them one of his award-winning smiles. In fact, this memory of him was felt so strongly that a local news reporter called him an "angel from heaven" in a newspaper article.

    So what happened? In short, my ten-month-old baby got sick, he was initially misdiagnosed, the diagnosis was corrected, he was operated on and a good chunk of his intestines removed, the operation was successful, then a blood transfusion was inappropriately administered ... and ten minutes later, in front of my husband, my oldest child, and me, our precious boy began to convulse -- blood came out of his mouth -- and it was impossible for the doctors and nurses to save him. Tears are streaming down my face right now as I recall those awful memories. 

    I remember the shock I felt when my husband came out of the operating room and said those words, "He is in heaven." I had heard the words clearly but I still clung to the hope that I had not heard properly. When I realized it was true, and that I would never hold him in my arms again, my heart felt ripped apart. That first month I swayed back and forth between shock and disbelief to awful heart ache. For a year after my son died, it was as if I was using a different pair of glasses. I could see things through those glasses, but everything was a dark shade. After a whole year had passed I remember one day, while walking out of our driveway and down the road to my teaching job, I suddenly became aware that the sun was shining. I looked around in surprise as I saw bright colored flowers and heard birds chirping. They had been there every day for the last year, but I had not even wanted to see or hear them. I suddenly felt God's presence clearly and was extremely thankful for His faithfulness. 

   One of my worst fears before my precious boy died, was that I might lose one of my children. God in His wisdom decided that meeting me right at the focus of that fear was what He needed, to bring me closer to Him. I will never forget my little boy that left us at such a young age, and there will always be times (like right now) when the tears just flow. But I can honestly say with Job, "The Lord gave and the Lord has taken away; may the name of the Lord be praised" (Job 1:21b). Our God is a Sovereign God. He knows everything that is happening to us because He is in control. He also loves us tremendously and cares when we are grieving. Medical professionals make mistakes, but God does not ever make a single mistake. He had a divine purpose in taking my son so early to be with Him. And He also knew that I and my family would survive --yes, even grow stronger-- through this event. He Himself provided the strength that we needed. Because "for those who love God all things work together for good" (Rom. 8:28).

    Every person deals with grief differently and your story of experiencing grief might be totally different than mine. For those readers who have dealt with grief and feel comfortable, please feel free to share some of your thoughts and experiences in the comments section below. 

The Truth About Me

It dawned on me one day recently, that my sense of worth was tied up with a ton of "must do's" and "must not do's...