Tatkala saya menulis blog ini di rumah saya, wajah anak saya yang manis ini sedang terpampang di tembok rumah saya sambil menatap saya yang sedang menulis blog ini. Bagaimana sifatnya atau karakternya anak saya ini? Hampir semua fotonya, dia selalu terlihat dengan senyum dan tertawa manis. Dia jarang rewel ataupun menangis. Kalau ada orang baru yang datang ke rumah, dia sering kali menatap orang itu sampai orangnya melihatnya, lalu dia memberikan senyum manisnya. Banyak orang memperhatikan sifatnya itu, bahkan ada sebuah koran yang menulis tentang dia dengan berkata bahwa dia seperti seorang "malaikat yang turun dari sorga".
Jadi anda pasti bertanya, apa yang terjadi? Singkatnya, anak saya jatuh sakit, dia didiagnosa secara tidak benar, lalu diagnosa yang pertama dan salah itu diperbaiki. Lalu diagnosa yang benar itu mengharuskan anak saya itu untuk segera dioperasi karena ususnya bermasalah. Akibatnya sebagian besar dari ususnya harus dipotong. Operasi itu berhasil, dan setelah dioperasi, dia harus mendapat transfusi darah. Sayangnya, transfusi darah yang diberikan kepadanya tidak sesuai dengan SOP (Standard Operational Prosedure). Kira-kira sepuluh menit kemudian, di depan mata saya, suami saya, dan anak saya yang sulung, anak kami yang manis itu menjadi kejang-kejang dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Usuha para dokter dan perawat tidak bisa menyelamatkan anak saya. Mengingat sejarah yang sangat sedih itu, membuat air mata saya mengalir sekarang.
Saya masih ingat moment itu tatkala suami saya keluar dari ruang operasi dan katakan "Dia sudah di sorga." Saya mendengar kata-katanya dengan jelas, tetapi saya masih mengharap bahwa saya telah mendengar informasi yang salah. Tatkala saya sadar bahwa itu memang benar, dan bahwa saya tidak akan menggendong anak saya lagi, hati saya merasa disobek-sobek. Memang, bulan pertama itu hati saya terbolak-balik diantara merasa shock dan tidak percaya bahwa dia sudah meninggal dan hati saya merasa hancur berkeping-keping. Selama satu tahun, saya merasa seperti saya menggunakan kaca mata yang lain dari pada yang sebelumnya. Saya seperti melihat dunia, akan tetapi dunia yang saya lihat menjadi gelap semuanya. Setelah satu tahun lewat, saya mengingat suatu hari dimana saya keluar dari rumah sambil berjalan kaki. Saya ingin pergi ke sekolah untuk mengajar anak-anak saya. Tiba-tiba saya kaget melihat matahari bersinar. Saya melihat sekitar saya dan ternyata juga ada bunga-bunga yang berwarna-warni dan saya mendengar burung-burung berkicau. Saya benar-benar kaget melihat itu semua. Memang ciptaan Tuhan itu sudah berada di situ setiap kali saya keluar dari rumah saya, tetapi selama satu tahun saya tidak melihat indahnya hasil ciptaan Tuhan itu. Maksud saya, bahwa akhibat dari meninggalnya anak saya itu, membuat saya tidak ingin menikmati kebahagiaan termasuk keindahan ciptaan Tuhan. Pada hari itu saya tiba-tiba merasa kehadiran Tuhan sangat dekat dengan saya dan saya merasa sangat bersyukur atas kesetiaan Tuhan menjaga dan memelihara saya.
Sebelum anak saya meninggal, saya selalu takut kehilangan salah satu dari anak-anak saya. Tuhan mahatahu dan Dia tahu bahwa dengan mengijinkan hal yang saya takuti, justru itu akan membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya tidak akan pernah melupakan anak saya yang meninggal tatkala masih kecil itu, dan kadang-kadang ada waktu (seperti sekarang tatkala saya mengingat-ingat peristiwa kematian anak saya itu) air mata masih mengalir. Tetapi puji Tuhan, sekarang saya bisa berkata bersama Ayub: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayub 1:21b)
Allah kita berkuasa dan mengetahui semua yang terjadi di dalam hidup kita karena Dia mengontrol semua di bumi ini. Dia juga sangat mengasihi kita dan peduli tatkala kita lagi berduka atau dalam kesedihan yang mendalam. Para medis bisa membuat kesalahan, tetapi Tuhan kita tidak akan pernah membuat satu titik kesalahanpun. Dia mempunyai alasan yang mulia, mengapa Dia mengambil anak saya yang masih berumur sepuluh bulan itu. Dia juga tahu bahwa saya dan keluarga saya akan bertahan dalam kesusahan itu -- bahkan kami akan menjadi lebih kuat secara spiritual. Dia sendirilah yang menyediakan kekuatan yang kami perlukan. Karena seperti kata rasul Paulus dalam Roma 8:28: "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia."
Setiap orang menghadapi dukacita dengan cara yang berbeda. Saudara mungkin mempunyai ceritera atau pengalaman duka yang berbeda dengan apa yang saya sampaikan di blog saya ini. Oleh karena itu, bagi siapa saja yang membaca blog saya ini dan mengalami dukacita, silahkan mengambil waktu untuk bersama-sama kita berbagi-bagi ceritera dan perasaan kita satu sama yang lain untuk saling memberikan hiburan dan kekuatan rohani dan jiwa dan teristimewa untuk kemuliaan nama Tuhan.
Silahkan share di bagian "comments" dibawah ini.

No comments:
Post a Comment