Wednesday, October 7, 2020

Tertawa Adalah Obat yang Manjur

    Minggu lalu saya menulis di blog saya tentang hal yang sangat sedih dan membuat banyak air mata saya bercucuran karena saya mengingat kembali semua hal yang menyedihkan itu. Minggu ini saya ingin menulis sesuatu yang lebih ringan dan lucu agar supaya ada balance untuk saya dan saudara-saudara dalam menikmati tulisan-tulisan saya, Saya sadar bahwa kadang-kadang di dalam hidup saya, saya sangat tertolong jikalau saya bisa tertawa dengan riang mengenai diri saya sendiri atau tentang situasi hidup yang sedang saya hadapi.

    Hidup sebagai seorang asing di Indonsia, terkadang menimbulkan banyak hal yang lucu. Sering kali kita harus tertawa sendiri. Tatkala saya pertama kali datang dari Kanada sebagai seorang ibu yang baru saja menikah dan setelah tinggal beberapa lama di Indonesia, saya merasa stress berhubungan dengan topik makan minum bersama di meja. Sebagai istri yang baik, saya setiap hari bekerja keras untuk memasak dan menyediakan makanan yang panas untuk suami saya. Namun, sayangnya setiap kali kami bersiap-siap untuk duduk di meja makan untuk menikmati sajian makanan panas yang sudah saya siapkan itu, tiba-tiba saya kaget karena ada tamu yang datang di rumah. Saya merasa bingung dan tidak tahu apa yang saya harus buat. Di Kanada, dan di negara-negara barat lainnya, biasanya kalau ada tamu yang mau datang berkunjung di rumah kita, biasanya tamu itu harus menelepon lebih dahulu sebelum dia datang, tujuannya agar kami mengetahui maksudnya dan menyiapkan diri sebelum tamu itu datang. Tetapi di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur, tamu bisa datang kapan saja, tanpa harus memberitahukan terlebih dahulu. Suami saya menjelaskan kepada saya bahwa tamu di Indonesia sangat dihargai dan meskipun kita harus makan, kita harus menunda jam makan kita itu sampai tamu itu sudah pulang baru kita makan atau kita mengundang tamu itu makan bersama kita. Pertama kali tatkala ada tamu datang tepat jam makan, saya berbisik di telinga suami saya, sambil berkata: "Mungkin mereka bisa makan bersama-sama dengan kita?".Tetapi suami saya menjelaskan kepada saya bahwa tamu ini bukan keluarga yang dekat dan belum terlalu akrab. Jadi kalau kita mengundang mereka, maka bisa saja mereka akan menggunakan perasaan dan akan menolak undangan kita. Saya menjadi bingung karena saya sudah masak dan makanan sudah disiapkan di meja makan. Saya mencoba mendesak suami saya tetapi dia berkata, "Tidak apa-apa,. Simpan saja makanan itu dan tatkala tamu itu sudah pulang baru kita makan bersama." Saya menjadi tambah bingung dan stress dengan budaya ini. Dalam hati saya saya berkata: "Wah! Kalau tamu ini berlama-lama maka saya harus memanaskan lagi makanan-makanan itu." 

    Ternyata betul, tamu itu mengambil waktu yang agak lama dan saya harus memanaskan lagi makanan-makanan itu. Malam berikutnya, peristiwa yang sama terjadi lagi. Saya harus panaskan lagi makanan kami. Setelah saya panaskannya -- Aduh...! Hal yang sama terulang lagi. Tamu terus datang! Ini terjadi berulang-kali siang dan malam. Akhirnya suatu malam saya tidak bisa menahan emosi saya lagi karena saya sudah capek dengan terus memanaskan makanan yang ada. Saya menjadi marah! Saya dan suami saya mulai bertengkar. Suami saya sangat bingung dan berkata: "Kenapa kamu harus terus panaskan makanan itu berulang kali?" Jawab saya dengan heran: "Masa Pak mau makan makanan yang dingin?!" Lalu dia merespon, "Tidak apa-apa! Kami sudah biasa makan begitu." Saya menatap dia dengan sangat heran, lalu tiba-tiba saya tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan perbedaan budaya ini. Dalam hati saya, saya berkata: "Aduh! Pantas ibu-ibu disini tidak menjadi marah, karena mereka disini biasa makan yang dingin!" Malam itu, saya belajar tiga hal yang baru. Yang pertama, saya belajar bahwa bagi orang Indonesia, bersosial, berteman, berceritera bersama-sama itu lebih berharga dari pada apa pun, bahkan dari makan makanan yang segar dan panas. Kedua, saya belajar untuk menertawakan diri sendiri di saat-saat tertentu. Ketiga, saya belajar bahwa saya harus makan dengan cepat sebelum tamu datang secara tiba-tiba ke rumah karena saya tidak biasa makan makanan yang dingin!  😂

    Lalu lintas di Indonesia dan khususnya di lampu merah, adalah satu tempat yang sering kali membuat saya stress dan menjadi emosi. Saat saya berada di lampu merah dengan mobil saya dan saya berada di paling depan, sambil menghitung waktu yang ada di lampu merah itu, di mana tinggal beberapa detik lagi saya akan berjalan, ternyata saya mendengar klakson-klakson atau bunyi bel seakan-akan memberi perintah desakan agar saya segera melajukan mobil saya padahal jumlah detik belum lengkap dan lampu lalu lintasnya masih berwarna merah. Saya sungguh kaget. Saya berkata dalam hati saya: "Hey?? Masih merah kenapa mereka marah saya?!" Suami saya menjelaskan bahwa: "Ya sudah hampir hijau jadi semua bisa jalan." Saya menjawabnya: Tidak boleh! Kalau merah ya merah. Hijau, ya hijau." "Di Kanada saudara-saudara, kalau kita jalan tatkala lampu masih merah, biar tinggal tiga detik saja, maka sangat mungkin kita akan ditangkap polisi dan harus membayar denda di pengadilan. Bisa saja SIM kita diambil untuk sementara waktu. Berjalan di lampu merah itu hal yang sangat serius di Kanada. Jadi saya tidak suka kalau orang membunyikan bel ke saya tatakala saya merasa bahwa saya tidak bersalah. Akan tetapi saya belajar satu cara dalam menghadapi situasi itu yang sedikit lucu. Tatkala banyak mobil membunyikan belnya ke saya, saya sengaja tidak dengar apa-apa. Saya melihat ke kiri dan ke kanan sambil bernyanyi sambil menunggu lampu merah menjadi hijau. Lalu saya melajukan mobil saya pelahan-lahan. Setelah itu, saya bernyanyi dengan suara yang kuat melagukan lagu Indonesia Tanah Airku. Anak-anak saya berpilir saya sudah jadi gila tetapi hal itu menolong saya supaya saya tidak menjadi stress setelah kejadian di lampu merah tadi. 😂😂

    Saya harap saudara-saudara tidak salah paham dengan apa yang saya sampaikan di sini. Saya benar-benar mencintai negara Indonesia. Ada banyak hal yang saya suka bahkan sangat menghargai kehidupan di Indonesia. Yang paling pertama adalah orang-orang Indonesia begitu ramah dan baik dan sangat gampang berteman. Akan tetapi, sebagai orang barat yang mencoba menyesuaikan diri di Indonesia, pasti akan merasa culture shock karena budaya di Indonesia sangat berbeda dengan budaya di Kanada. Jadi tatkala kita menghadapi culture shock itu kita harus menyesuaikan diri kita dengan bijak. Bagi saya, humor dan tertawa, itu bisa sangat menolong saya seperti kata Amsal 17:22: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." Tentu, kita tidak bisa selalu gembira tetapi kalau kita mampu menjadi gembira dengan membuat lelucon, maka itu akan menjadi obat yang mujarap. Alkitab berkata bahwa itu menjadi seperti obat untuk kita saat kita sedang sakit. Tatkala kita mampu melihat situasinya dalam perspektif yang baik, dan jika kita bisa berfokus di hal yang luar biasa besar maka kita akan mendapat "sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan" (1 Pet.1:8b). Sukacita itu hanya kita peroleh dalam Yesus Kristus. Mudah-mudahan, blog saya hari ini sudah memberikan beberapa obat yang manjur untuk saudara-saudara hari ini!

    Kalau saudara belum subscribe ke blog saya ini, dan saudara ingin diberikan notifikasi tatkala ada blog baru, maka saudara dapat tekan tombol "subscribe" di paling atas blog. Tinggal mengisi alamat email dan saudara akan dinotifikasi tiap kali kalau sudah ada blog yang baru. Kalau saudara ada tambahan pikiran atau ide yang ingin saudara tambahkan, silahkan menulis di tempat comment di bawa. Kiranya Tuhan memberkati saudara dan saya.

No comments:

Post a Comment

The Truth About Me

It dawned on me one day recently, that my sense of worth was tied up with a ton of "must do's" and "must not do's...