Setalah membaca artikel saya yang terakhir tentang kehidupan yang bermakna, ada seorang subscriber merasa sedikit bersalah lalu menyatakan kepada saya demikian: "Setelah saya membaca tulisan ibu, saya berpikir bahwa kehidupan saya akan menjadi kurang bermakna jika hidup saya terlalu sibuk." Saya merenungkan pernyataan itu beberapa waktu, lalu saya mengambil keputusan untuk menulis sebuah artikel lanjutan tentang hidup yang bermakna.
Memang benar, kehidupan kita akan cenderung menjadi kurang bermakna kalau kita terlalu sibuk. Namun, itu bukan berarti bahwa kita sama sekali tidak boleh sibuk. Jadi hidup yang bermakna atau kurang bermakna tidak tergantung pada berapa banyak kesibukan kita. Ada sesuatu yang lain yang menentukan hidup kita bermakna atau kurang bermakna. Tergantung bagaimana kita mengatur kesibukan kita. Dan setiap kita harus mengevaluasi diri sendiri dan hidupnya sendiri.
Setelah membaca empat kitab yang pertama di Perjanjian Baru (yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) saya berkesimpulan bahwa Tuhan Yesus sangat sibuk tatkala Dia hidup di muka bumi ini sebagai manusia. Kesibukannya, antara lain, mengajar murid-muridNya secara pribadi, berkhautbah kepada banyak orang di berbagai tempat, berbicara dengan orang-orang secara pribadi tatkala mereka mencariNya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang Farisi yang mencobaiNya, menyembuhkan banyak orang yang sakit, mengusir roh-roh jahat, membangkitkan orang-orang dari kematian, dan membuat banyak mujizat yang lainnya. Tuhan Yesus membuat semua itu dengan satu tujuan yaitu untuk menunjukan diriNya sebagai Mesias yang dijanjikan dan untuk mengarahkan pikiran orang-orang kepada penyalibanNya di kayu salib serta semua perkerjaan dan penderitaanNya di kayu salib.
Namun di tengah-tengah kesibukannya, Tuhan Yesus masih mengambil waktu untuk pergi ke tempat yang sunyi agar supaya Dia bisa berdoa kepada BapaNya di surga. Markus 1:35 berbunyi demikian: "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Luar biasa sekali saudara-saudari! Saya terpaksa berpikir bahwa kalau Tuhan Yesus yang adalah Anak Allah perlu waktu yang khusus untuk berdoa sendiri kepada BapaNya, apalagi saya! Memang, kalau kita tidak mengambil waktu yang cukup untuk berbicara dengan Bapa surgawi kita dan untuk membaca FirmanNya yang membawa kehidupan, kita pasti akan hilang energi, semangat dan fokus. Kita juga akan kehilangan kemampuan untuk berpikir -- dan berbuat -- hal-hal yang positif dalam kehidupan kita.
Saya membaca satu artikel yang berbunyi: "Is Jesus missing from your busy life?" Dalam bahasa Indonesia terjemahan bebasnya: Adakah Yesus di dalam kesibukan hidup saudara? Dalam artikel tersebut Allison Moore sebagi penulisnya berkata bahwa untuk mendapatkan hidup yang bermakna sangat simpel yaitu selalu menghadirkan Yesus dalam segala kesibukan hidup. Ini adalah website yang bisa saudara buka untuk membaca artikel yang saya sebutkan diatas: https://newspring.cc/articles/is-jesus-whats-missing-from-your-life.
Allison mencatat delapan cara yang sangat menolong untuk menghadirkan Yesus di dalam kesibukan hidup kita yaitu: berdoa, mendengar (Roh Kudus), membaca Alkitab, mengasihi orang lain dengan benar, melayani orang lain, sering memuji nama Tuhan Yesus, dan bersyukur kepada Tuhan. Kalau jadwal kita begitu padat dengan kegiatan-kegiatan kita (meskipun mungkin kegiatannya bersifat rohani) sehingga kita tidak mempunyai waktu untuk memenuhi delapan hal yang diatas, maka kehidupan kita akan menjadi benar-benar kurang berarti. Akan tetapi, kalau kita, meskipun sangat sibuk, namun kita mampu mengambil waktu untuk berdoa kepada Bapa surgawi kita, seperti yang dibuat oleh Tuhan Yesus, maka hidup kita menjadi bermakna. Kenapa begitu? Karena berdoa dan membaca Firman Tuhan menolong kita menjadi berfokus untuk memuliakan nama Tuhan dan melayani orang lain.
Saya tidak tahu tentang kehidupan saudara, tetapi saya sendiri ingin mempunyai suatu kehidupan yang lebih berarti. Hidup kita berbeda antara satu dengan yang lainnya: situasi yang berbeda, budaya yang berbeda, keluarga yang berbeda, talenta-talenta dari Tuhan yang berbeda, serta panggilan yang berbeda. Akan tetapi, jikalau saudara dan saya mempunyai kehidupan yang bermakna, maka kehidupan kita akan kelihatan sama. Mengapa? Karena kita sama-sama memiliki akar dan dasar hidup yang sama dalam Kristus. Kolose 2 ayat 6 dan 7 berbunyi demikian: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan bangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah tegu dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur."
Kiranya Firman Tuhan dan Roh Kudus membimbing kita semua agar kita makin mengetahui cara yang diinginkan Tuhan dalam hidup kita, dan makin lama makin mempunyai hidup yang luar biasa berarti secara surgawi. Kiranya nama Tuhan dipuji di dalam hidup kita masing-masing!
No comments:
Post a Comment