Di bawah ini adalah ringkasan yang saya buat dari khotbah Pendeta Winston Bosch atas ijinannya. Khotbah ini berdasarkan Mazmur 42. Untuk edisi bahasa Inggrisnya saudara dapat membaca di blog saya yang berjudul: "Fight for Joy in the Hour of Discouragement". Sebagai informasi, Pendeta Winston melayani sebagai hamba Tuhan di Gereja Reformasi "Jubilee" di Kanada.
Pernahkah saudara bermain ayunan jungkat-jungkit sejak masa kecil? Atau pernahkah saudara membawa adik / anak / cucu untuk bermain di atas ayunan jungkat-jungkit? Atau paling sedikit saudara pernah melihat mainan tersebut di depan gedung Kelompok Bermain atau Taman Kanak-kanak. Tatkala saya masih kecil saya suka sekali main di atas ayunan ini. Ayunan jungkat ini selalu naik turun, naik turun bergantung berat ringan yang bermain. Lebih asyik lagi kalau di satu bahagian ada dua orang sehingga di bahagian yang lain terbang tinggi ke langit.
Sebagaimana ayunan jungkat-jungkit yang selalu naik dan turun demikian juga sukacita dan kesedihan,
pengharapan dan putus asa, kepuasan dan ketidakpuasan sering terjadi dalam hidup kita. Kadang-kadang harapan kita tercapai secara luar biasa dan kita merasa senang dan bersukacita.
Tetapi taklala pengharapan itu hilang, maka kita menjadi putus asa dan kita merasa down,
sedih, stress, bahkan bisa menjadi sedikit depresi. Itulah hidup. Karena setiap orang memiliki sifat dan keadaan hidup yang berbeda, bahkan hormon dalam tubuh yang berbeda, maka keadaannya jiwapun berbeda-beda naik dan turunnya tiap hari sama seperti ayunan jungkat-jungkit. Bagaimana dengan keadaan saudara saat ini? Apakah saudara berada di atas atau di bawa ayunan jungkat-jungkit? Mazmur 42 menyaksikan perasaan pemazmur yang kadang-kadang naik dan tiba-tiba menurun. Mazmur 42
menggambarkan hidup yang nyata. Tetapi mazmur ini mengajarkan kita
sesuatu yang lebih penting, yaitu, bagaimana kita bisa bersukacita di atas jiwa yang rapuh.
Di dalam Mazmur 42 ayat 1 tertulis: "Untuk
pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah." Bani Korah
adalah penyanyi-penyanyi dalam Bait Suci. Dalam ayat ini kita diajak untuk membaca dan mendengar Mazmur 42 ini secara pribadi. Biarkan
mazmur ini bicara kepada hidup saudara atau kepada hidup keluarga saudara.
Tolong baca ayat 2 sampai ayat 4. Kita melihat
langsung bahwa pemazmur mulai dengan perasaan putus asa. Kadang-kadang kita juga
merasa seperti itu, kan? Perhatikan bahwa pemazmur tidak katakan: "Seperti
rusa merindukan sungai yang berair, deminkianlah jiwaku merindukan pertolongan
dan kesembuhan." Tidak. Pemazmur tidak mencari solusi yang sementara
seperti meminta plester luka atau meminta badan diurut. Dia merindukan Tuhan
sendiri dan kehadiranNya. Dia menulis: "demikianlah
jiwaku merindukan Engkau, ya Allah." Dia membutuhkan Tuhan seperti
binatang-binatang yang memerlukan air untuk hidup. Dan dia bertanya kepada Allah,
"Kapan Tuhan? Kapan aku boleh melihat Engkau?" Barangkali dia ingin
pergi ke Bait Suci di Yerusalem. Tetapi dia bukan mau kesitu karena tradisi,
saudara-saudara, tetapi jiwanya rapuh dan dia merasa haus untuk melihat
kehadiran Allah. Apakah saudara juga terkadang merasa seperti itu? Apakah saudara merasa tegang atau sedih atau putus asa karena masalah-masalah yang menumpuk dalam hidup saudara? Apakah saudara merinduhkan Tuhan dalam hidup saudara?
Setelah itu, pemazmur berbicara tentang air matanya yang mengalir. "Air mataku
menjadi makananku siang dan malam." Pernahkah saudara mengalami
seperti itu? Akhibat dari beban-beban yang terlalu berat, sehingga saudara hanya bisa menangis
saja. Pada malam hari saudara tidak bisa tidur karena kawatir, lalu di pagi hari
saudara langsung berpikir tentang kekawatiran itu. Apakah kadang-kadang saudara
menangis di belakang pintu kamar? Apakah mungkin saudara sementara menahan air
mata sekarang, sambil membaca tulisan ini? Terkadang kita sulit untuk
menjelaskan beban itu kepada orang lain. Kita merasa seperti tidak ada orang yang
mengerti situasi kita. Pemazmur juga merasa seperti itu. Orang-orang di sekitar
pemazmur bukan hanya tidak mengerti, tetapi mereka bahkan mengoloknya. Mereka
berkata,"Di mana Allahmu?" Berat sekali!
Di ayat 5, si pemazmur merindukan masa lalunya yang indah. Coba saudara membacanya. Dia mengingat momen-momen indah yang dulu dia rasakan tatkala dia merasa dekat sekali dengan Tuhan. Waktu dia beramai-ramai dengan jemaat Tuhan melangkah ke rumah Tuhan sambil bersorak-sorai memuji Tuhan. Saudarapun mungkin pernah merasa momen-momen indah tatkala saudara menikmati fellowship dengan Tuhan dan dengan jemaatnya.
Di ayat 6, ayunan jungkat-jungkit berubah posisi. Ayat ini juga adalah ref dalam lagu ini. Kata-kata ini diulang lagi di ayat 12 dan sekali lagi di Mazmur 43:5. Pemazmur disini tidak bicara kepada Tuhan ataupun kepada orang lain, tetapi dia bicara kepada diri sendiri. Sepertinya, di tengah-tengah penderitaannya dia berhenti sejenak dan katakan kepada diri sendiri: “Sabar dulu. Saya tidak mau menjadi budak kepada perasaan saya sendiri. Jiwaku, dengar baik-baik. Mengapa engkau tertekan? Berharaplah kepada Allah!” Saudara-saudara, ini adalah kebiasaan yang bagus. Marilah kita melatih diri sendiri untuk tidak dengar dan tidak percaya penipuan-penipuan yang ada di dalam otak kita, tetapi bicara kebenaran Tuhan kepada diri sendiri. Ini adalah positive thinking yang alkitabia. Ini adalah kebenaran Tuhan yang menolong kita untuk bersukacita di atas jiwa yang rapuh.
Di ayat yang ke-7
dan ke-8 posisi ayunan jungkat-jungkit
berubah lagi dimana perasaan pemazmur menjadi putus asa lagi. Di ayat 6 pemazmur bertanya:
“Mengapa engkau tertekan hai jiwaku?”
dan langsung di ayat berikut dia katakan: “Jiwaku
tertekan dalam diriku.” Sebelumnya mata si pemazmur
tertujuh kepada Tuhan dan sekarang matanya tertujuh kepada situasi yang sulit
yang dia hadapi. Inilah hidup, saudara, di dunia ini. Masalah-masalah yang kita hadapi
itu real dan berat dan tidak ada solusi-solusi yang gampang.
Di dalam ayat yang ke-9 mainan jungkat-jungkit berubah lagi. Emosional
si pemazmur berubah lagi secara drastis. Seperti pemazmur tadi lagi tenggelam sampai meminum air, tetapi sekarang dia melihat semua menjadi cerah. Saya paling suka kalimat itu: “Tuhan memerintahkan kasih setianya pada siang hari.” Di Bahasa Ibrani,
sebenarnya kata itu bukan kasih setia, tetapi “hesed” yang artinya “kebaikan, belas kasihan, kesetiaan, dan
rahmat dari Allah Perjanjian kita, meskipun kita tidak layak untuk menerima itu.” Di dalam ayat ini, Tuhan memerintahkan hesednya atau kasih setianya untuk kita. Kasih Tuhan itu bukan sesuatu yang asal-asal saja bagi kita. Tetapi Tuhan justru memerintahkan kasih setiaNya untuk setiap kita secara pribadi. Luar biasa saudara! Tatkala ayunan jungkat-jungkit
menurun ke bawah, ingatlah bahwa Tuhan memerintahkan kasih setianya untuk saudara.
Di ayat 10 dan 11 sekali lagi pemazmur menulis tentang kesedihannya. Dia bertanya kepada Tuhan: “Mengapa Engkau melupakan aku?” Emosional
kita kadang-kadang memang begitu. Emosional kita kadang-kadang seperti musim
semi di Kanada. Kadang-kadang saya keluar rumah saya, merasa sinar matahari yang
hangat dan saya ingin memakai celana pendek dan bermain bola basket bersama dengan
anak-anak saya. Tiba-tiba hari esok suhu menurun sampai minus 17 derajat Celsius
dan saya tidak ingin keluar dari tempat tidurku! Inilah hidup saudara!
Di sini kita melihat bahwa memazmur merasa penindasan oleh musuh-musuhnya.
Dia merasa terganggu, kesakitan, dihina, dan lain sebagainya. Kadang-kadang
kita juga bisa rasakan itu. Kadang-kadang orang lain tidak mengerti keadaan
kita, dan mereka meremehkan penderitaan kita atau menghina kita. Sangat berat.
Pemazmur katakan bahwa dia merasa seperti ada tikaman maut di dalam tulangnya. Dia
merasa hampir mau mati saja. Kadang di dalam hidup kita, kita merasa begitu tertekan
dengan sesuatu beban hidup dan begitu stress menghadapi hidup sehingga kita
merasa seperti mau mati saja. Firman Tuhan seperti Mazmur 42 ini menunjukan bahwa
Tuhan mengetahui dan mengerti dan peduli akan penderitaan kita.
Saudara, kadang-kadang pikiran kita yang negatif
bertumbuh menjadi banyak. Oleh karena kita merenungkan tentang hal yang negatif, maka
pikiran negatif itu dibesar-besarkan oleh otak kita sendiri. Akhirnya, kita tidak bisa berpikir apa-apa lagi secara positif. Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita memberhentikan pikiran-pikiran yang negatif
itu sambil merenungkan tentang kasih
setia Tuhan. Itu yang pemazmur jalankan.
Silahkan membaca ayat 12. Ayat ini ada baiknya jika saudara mencatatnya lalu menggantungkannya di atas dinding atau kulkas saudara. Ayat ini juga bagus untuk dihafalkan di luar kepala. Berharaplah kepada Allah! Mengingat
janji-janjinya! Dia adalah keselamatan saudara! Dia adalah Allah yang penuh
kasih setia…sejak dulu, sekarang, dan selama-lamanya.
Di akhir mazmur ini, ternyata pengharapannya menjadi menang. Mengapa?
Pengharapan menang karena Tuhan sudah menang! Kita pasti akan menderita
dalam hidup ini tetapi Tuhan kita bukan Allah yang jauh dan yang tidak mengerti tentang penderitaan kita.
Allah kita, lewat Yesus Kristus, juga merasakan penderitaan. Tuhan Yesus, tatkala di atas kayu
salib, telah berseruh dengan suara nyaring: “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau
meninggalkan Aku?” Dia menderita supaya kita bisa diselamatkan. Di dalam Tuhan Yesus kita menjadi menang dan pengharapan kita tercapai dengan luar biasa.
Jika saudara merasa putus asa, dan jiwa saudara menjadi rapuh akibat pikiran-pikiran negatif yang datang dari segala macam arah dan bermacam masalah hidup, ingatlah akan Mazmur 42 ini. Berharaplah pada Tuhan dan peganglah janji-janjiNya. Ingatlah akan kemenangan kita dalam Tuhan Yesus Kristus.
Nyanyikanlah lagu ini dengan suara yang lantang dan dengan sepenuh hati sambil mengingat akan kasih setia Tuhan dalam Tuhan Yesus. Bagikanlah mazmur ini kepada keluarga dan teman-teman, dan siapa saja yang lagi berjuang dalam keputusasaan. Bersukacita di atas jiwa yang rapuh.
“S’perti rusa rindu sungaimu
Jiwaku rindu Engkau
Kaulah Tuhan hasrat hatiku
Kurindu menyembahMu
Kaulah kekuatan dan perisaiku
KepadaMu rohmu berserah
Kaulah Tuhan hasrat hatiku
Kurindu menyembahMu…”