Wednesday, June 23, 2021

FirmanMu

"FirmanMu, pelita bagi kakiku..." Kemarin syair lagu ini terdengar secara lantang dan merdu di telinga saya. Ini adalah sebuah lagu Kristen yang terkenal yang dibuat oleh Amy Grant dan Michael W. Smith. Saya mendengarnya, tiba-tiba kata-kata yang berasal langsung dari Mazmur 119:105, membuat saya berpikir, "Apakah Firman Tuhan benar terang bagi jalanku?"

Tatkala saya merenungkan kata-kata Firman Tuhan sebagai lampu atau pelita, saya tiba-tiba teringat waktu saya kecil dan pergi berkemping bersama keluarga saya. Di tengah malam, tatkala saya bangun untuk pergi ke kamar kecil di luar, saya lalu berpikir apa yang saya butuhkan? Ya, tentu saya perlu sebuah lampu senter! Karena saya kurang mengenal area di tempat kemping itu, maka saya memang perlu senter agar saya jangan jatuh saat saya berjalan. Apa lagi di tempat itu ada banyak pepohonan, carang-carang pepohonan, batu-batu, dan benda-benda lainnya. Juga tidak ada listrik di tempat kemping itu. Jadi memang terlihat sangat gelap. Selain itu, ada  binatang-binatang liar seperti "skunk" ( ini adalah binatang di Kanada yang berwarna hitam-putih dan saat ia mengeluarkan cairan dari duburnya maka kita akan merasa bau busuk yang sangat menusuk),  juga ada ular, bahkan kemungkinan beruang yang harus diwaspadai! Jadi sangatlah penting untuk memegang sebuah senter jikalau mau keluar kemah pada malam hari untuk mencari kamar kecil. 

Sebagai orang Kristen, Firman Tuhan seperti lampu senter itu bagi saya. Firman Allah adalah bagian yang utama dalam hidup saya. Dia menunjukan kepada saya jalan yang saya harus lalui. Dia menunjukan kepada saya identitas yang saya miliki di dalam Kristus. Dia  menolong saya waktu jalan sulit. Dia juga memberikan kepada saya harapan agar saya bisa jalan terus. Hanya kadang-kadang saya tidak sadar betapa berharga Firman Allah bagi saya, dan saya menganggap enteng Firman Allah itu. 

Saya kadang mendengar cerita-cerita nyata tentang orang-orang percaya yang hidup di tempat yang sulit. Mereka harus beribadah tersembunyi.  Jikalau tidak, mereka pasti menghadapi penganiayaan atau pembunuhan. Saya dengar orang-orang itu bertemu dengan diam-diam dan bertukar ayat-ayat Alkitab yang mereka punyai. Kalau mereka mendapat ayat atau pasal Firman Tuhan yang baru, mereka cepat-cepat pulang dan mulai menghafal ayat-ayat bahkan pasal itu, agar supaya jikalau pemerintah mengambilnya, maka mereka sudah kuasai Firman itu di dalam hati mereka. Saya harap saya bisa menjadi seperti mereka, dan memegang Firman Tuhan sebagai barang yang sangat berharga.

Saya berdoa saya tidak harus melewati waktu yang sulit, baru saya sadar tentang nilai yang luar biasa dari Firman Tuhan. Saya berdoa saya bisa lebih rajin dengan waktu pribadi saya membaca Firman Allah dan tidak membuatnya setelah semua pekerjaan saya selesai, karena sebagaimana Tuhan Yesus sendiri katakan kepada Setan waktu dia dicobai oleh si Iblis di padang gurun, “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4 di mana Yesus mengutip dari Ulangan 8:3).

Kiranya refleksi-refleksi ini menginspirasikan kita semua (termasuk saya sendiri) untuk buat komitmen-komitmen yang lebih giat lagi, untuk membaca dan mempelajari Firman Tuhan secara pribadi, bersama teman, di gereja sebagai kelompok kaum perempuan atau kaum laki-laki, maupun mendengar Firman Tuhan yang dijelaskan oleh hamba-hambanya dengan baik tiap minggu di gereja. Kalaupun gereja harus lewat online sekarang karena kondisi pandemi yang ada, itupun tidak apa-apa. 

Tetaplah rajin! Karena, seperti Tuhan katakan kepada Yosua di dalam Perjanjian Lama, "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung" (Yosua 1:8). Dan sebagaimana Tuhan Yesus katakan di dalam Perjanjian Baru, "Berbahagialah orang-orang yang mendengarkan firman Allah dan menaatinya" (Lukas 11:28). 

Kalau artikel ini sudah membawa berkat ke dalam hidup Bapak / Ibu / Saudara / Saudari, silahkan klik "follow" atau "subscribe via email" agar bisa mendapat lebih banyak artikel lagi seperti ini. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Soli Deo Gloria.

Thy Word

"Thy Word is a lamp unto my feet and a light unto my path..." My voice rang out loud and clear the other night, as my husband plucked the strings of the guitar, singing the words of the familiar song composed by Amy Grant and Michael W. Smith. Those words, which come directly from Psalm 119:105 suddenly made me think, "Is God's Word really a light for my path?? 

As I pondered that analogy of the Word of God as a guiding light, I couldn't help recall camping trips with my family as a young girl. In the middle of the night, when I woke up and had to use the outhouse, what did I reach for? A flashlight! Unlike my family's home (of which I had memorized practically every piece of furniture and its location), this camping area was unfamiliar to me, so it was important to  have that flashlight so that I wouldn't trip over anything. Besides, it was outside, so there could be branches, bushes, a fire pit, etc. that I would need to be careful for. Being out on a campsite in the bush without electricity, it was also much darker than at home. And lastly, there might be animals around (skunks, snakes, even possibly bears!) and I definitely did not want to suddenly find myself up close with one of them. How very important to me was that flashlight in my hand, shedding light on everything before me on my way to the outhouse! If some noises suddenly made my heart skip a beat, I had only to shine the flashlight in the direction of the noises, and my fears would be instantly gone. 

As a Christian, God's Word is like that flashlight to me. It is such a huge part of my life, shedding light so that I can know which way to go in my life, showing me my identity in Christ, helping me get through the difficult times, and giving me hope to continue on. But sometimes, I forget how truly essential it is to me. And, I am ashamed to say, I take it for granted.

I have heard true stories of Christians living in difficult times and places who gather together secretly, sharing pieces of the Bible, and then memorize whole passages so that when they switch their section with another person, they will still have that part of the Word in their hearts. How I wish I could be more like them, treasuring God's word as the precious jewel that it is. 

I pray that I will not need difficult times in order for me to become aware of the true value of the Word. I pray that I will stop putting my daily personal meditation of the Word aside until after my work is all done. For, as Jesus Himself said to Satan when He was tempted by him in the desert, "Man shall not live on bread alone, but on every word that comes from the mouth of God" (Jesus quoting Deuteronomy 8:3 in Matthew 4:4). 

May these simple reflections of mine inspire us all (especially myself!) to renew our commitments to personal Bible study, studying the Word with a friend or spouse, women's / men's / couple's Bible studies, as well as attentive listening to weekly sermons. Even if some of those methods of studying God's Word need to be done online due to the current conditions, it can still continue! For, as God said to Joshua in the Old Testament, "Keep this Book of the Law always on your lips, meditate on it day and night, so that you may be careful to do everything written in it. Then you will be prosperous and successful" (Joshua 1:8). And, as Jesus said in the New Testament, "Blessed ... are those who hear the Word of God and obey it" (Luke 11:28).

If this article was worth your time to read and you feel blessed in some way by it, please click "follow" or "subscribe via email" to get more of my articles in the future. God bless you all.

Saturday, June 12, 2021

Janganlah Matahari Terbenam Sebelum Padam Amarahmu

Ijinkan saya bertanya kepada Saudara. Apakah saudara merasa bersalah atau berdosa tatkala saudara merasa marah? Apakah saudara berpendapat bahwa emosional seperti kemarahan, kesedihan, kecemburuan, dan ketakutan adalah emosional-emosional yang tidak baik, sedangkan kebahagiaan dan sukacita adalah emosional-emosional yang baik? Saya lama berpikir seperti itu dan oleh karena itu saya selalu mencoba untuk menekan perasaan marah di dalam hidup saya. 

Seorang psikolog yang bernama Emma McAdam berbicara di dalam video Youtubenya yang berjudul "Fostering a Nonjudgmental Attitude -- The Lie of Positive and Negative Emotions", bahwa kita seharusnya tidak mengkategorikan perasaan manusia sebagai "baik" atau "tidak baik" tetapi sebaiknya sebagai "enak" or "kurang enak". Selanjutnya, dia katakan bahwa emosional-emosional yang kurang enak, seperti kekawatiran, kekecewaan, merasa bersalah atau ketakutan, mereka bisa menjalankan fungsi yang sangat penting" (terjemahan bebas dari saya). Sebagai contoh, seorang anak merasa takut sehingga dia tidak mendekati seekor anjing yang jahat dan akibatnya dia tidak digigit anjing itu. Atau, seorang merasa kawatir tentang istrinya / suaminya akhirnya dia mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki perkawinannya. Jadi, kalau kita mengkategorikan emosional-emosional manusiawi sebagai "baik" atau "tidak baik" maka kita mendapat perspektif yang sangat sempit. 

Kadang-kadang budaya kita, orang tua kita, ataupun gereja kita bisa mengajar bahwa emosional-emosional tertentu baik atau tidak baik, tetapi Firman Tuhan tidak mengajar seperti itu. Tuhan Yesuspun kadang merasa marah. Kita bisa bayangkan waktu Yesus membuat cambuk dari tali, dan mengusir penjual-penjual dari Bait Suci bahkan membalikan meja-meja (Yohanes 2:13-17). Selain dari itu, Yakobus mengajarkan, "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Jak.1:19). Yakobus tidak bilang, "Hai saudara-saudara yang kukasihi, setiap orang harus berhenti jadi marah." Dia sadar kalau itu tidak mungkin manusia tidak marah. Yakobus bilang kita harus menjadi lambat untuk menjadi marah. Dan kenapa begitu? "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yak.1:20). Amarah bisa membuat kita berdosa.

Oleh karena itu, rasul Paulus juga menasehati kita di dalam Efesus 4:26-27: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu." Kita harus hati-hati supaya tatkala merasa marah, kita tidak memperbolehkan iblis untuk bekerja di dalam hati kita.

Kalau begitu, bagaimana dengan Kolose 3:8? Disitu rasul Paulus menulis: "Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu." Apakah rasul Paulus berasumsi bahwa perasaan marah itu berdosa, sama-sama dengan geram, fitnah dan lain-lain? Di www.bibleref.com, menjawab pertanyaan, "What does Colossians 3:8 mean?" mereka berasumsi bahwa marah yang ditujuhkan disini bukan marah yang suci atau marah yang terkontrol, melainkan "ledakan kemarahan yang tak terkendali" yang "tidak boleh dilihat di dalam kehidupan seorang Kristen" (terjemahan bebas dari saya). 

Perhatikan juga, kalau rasul Paulus tidak bilang "menekan" kemarahan, tetapi "buanglah". Agar supaya berhasil membuang kemarahan itu, kita harus bisa sadar tentang keberadaannya, membuat evaluasi tentang perasaan itu dan memproses perasaan itu secara baik. Dan tentu, kita harus bisa mengampuni kalau memang ada orang yang membuat salah kepada kita. Tetapi rasul Paulus tidak memakai kata menekan. Kalau kita menekan atau sengaja saja bahwa perasaan marah tidak ada, maka satu saat situasi akan meledak.

Apakah proses ini gampang? TIDAK! Seringkali, semua itu sulit, apalagi kalau orang yang menyakiti kita adalah keluarga yang dekat atau teman akrab. Dan kadang-kadang kita harus bisa mengampuni berulang kali, seperti ditulis di Matius 18:21-22. Tetapi, meskipun sulit, dengan anugerah Tuhan dan dengan pekerjaan Roh Kudus, kita bisa membuatnya!

Don't Let the Sun Go Down on Your Anger

I have a question for you. Do you feel bad about yourself when you get angry with someone? In other words, do you feel that anger is sinful? Or at least, that anger, along with sadness, jealousy, worry and fear, are the "bad emotions" while happiness, joy, and excitement dwell in the category of "good emotions"? If you answered yes to any of those questions you are not alone. Until very recently, somewhere in the back of my brain, without really being aware of it, I believed that anger was a sinful emotion and that as a good Christian I should not get angry but always be pleasant. As a result, I often suppressed feelings of anger.

Emma McAdam, a licensed marriage and family psychologist, says in her Youtube video "Fostering a Nonjudgmental Attitude -- The Lie of Positive and Negative Emotions", that we shouldn't label emotions as "good" or "bad" but that instead should see them as "comfortable" or "uncomfortable". In other words, emotions such as sadness, anger and fear make us feel uncomfortable and are more difficult to deal with, while joy and gladness are more nice, enjoyable feelings. Furthermore, she says that "uncomfortable emotions, like worry, disappointment, guilt or fear, they can serve a very important function." For example, fear can prevent a child from getting close to a vicious dog and getting bitten. Worry about how a spouse has been feeling, can prompt a person to take positive actions for the good of his or her marriage. If we label human emotions as simply "good" or "bad" emotions, we may end up having a very narrow perspective of things.

Our culture, upbringing, or even our church, can sometimes promote this idea that certain emotions are bad and others good, but I don't think that God teaches that in His Word. Jesus Himself got angry. Think of the classic example of Jesus turning over the money tables in the temple (see Mat.21:12-13, Mark 11:15-18, Luke 19:45-46 and John 2:13-17). That indicates that anger is not in and of itself always bad. Furthermore, James says, "My dear brothers and sisters, take note of this: Everyone should be quick to listen, slow to speak and slow to become angry" (James 1:19). I think it is interesting that James does not say "My dear brothers and sisters, take note of this: Everyone should stop being angry." He realizes that it would be impossible for human beings to not ever be angry. No, James says instead that we should be "slow to become angry." And why? "because human anger does not produce the righteousness that God desires" (James 1:20)..Anger can cause us to sin. That's why Paul cautions us in Ephesians.4:26-27, "In your anger, do not sin: Do not let the sun go down while you are still angry, and do not give the devil a foothold." Paul too, acknowledges anger as a natural human emotion but he cautions us to be careful how we deal with that anger, so that we do not let the devil have his way when we are angry.

At this point, you might ask but what about verses such as Colossians 3:8? In Colossians 3:8, the apostle Paul writes, "But now you must put them all away: anger, wrath, malice, slander, and obscene talk from your mouth." Does it not seem like Paul is grouping anger together with other evil deeds and implying that we should not ever be angry? At www.bibleref.com in answer to the question "What does Colossians 3:8 mean?" they assume that the kind of anger that is mentioned here is not righteous anger or controlled anger, but "outbursts of uncontrolled anger" which are "not meant to be found in the life of a Christian."

Notice too, that Paul does not tell us to "suppress" those feelings of anger, but instead to "put them away". In order to put them away successfully, we will need to acknowledge those feelings of anger, evaluate them ("was I justified?") and process them. Forgiveness will also have to be a part of that process, if the anger was indeed justified. But Paul does NOT say to suppress them.

Is it easy to deal with the anger that we feel towards another person? No! It is often quite difficult, especially if that person is a close family member or a good friend, or if they have hurt us deeply. Sometimes, if the hurt is deep or the wounds far reaching, we might even have to get professional help in order to be able to put it behind us. Sometimes it might even be necessary to forgive someone again and again (see Jesus' answer to Peter in Matthew 18:21-22). It can be hard, but with God's grace and the working of the Holy Spirit, we can do it!

Wednesday, June 9, 2021

Dari Manakah Akan Datang Pertolonganku?

Artikel ini ditulis pada tanggal 18 April dan baru hari ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka hal-hal seperti bencana alam dan lain-lain sebenarnya terjadi lebih ke belakang dari pada tersirat di dalam artikel.

Maafkan saya karena saya tidak posting blog-blog yang baru selama beberapa minggu. Saya merasa  terlalu banyak hal yang saya alami sehingga saya merasa sulit meluruskan pikiran saya akibatnya saya  sulit untuk menulis sesuatu guna membangun orang lain.

Ada keluarga yang menghadapi kesakitan, memasuki masa tua bahkan bencana-bencana alam yang terjadi beberapa kali yang sungguh menguras tenaga dan pikiran. Tiap kali kami mendapatkan berita buruk seperti ini rasa-rasa seperti saya juga menderita bersama-sama dengan keluarga kami yang sedang alami penderitaan itu. Lebih dari itu, saya merasa tak berdaya karena saya tinggal jauh dari keluarga kami dan akibatnya tidak bisa buat apa-apa untuk menolong mereka. Saya merasa kaget setiap kali dapat berita yang baru dan saya merasa kasih dan sedih serta kawatir akan kenyamanan dan keselamatan mereka ditambah dengan kawatir akan kenyamanan dan keselamatan kami tatkala kota kami yang baru-baru mengalami gempa bumi yang cukup besar. 

Oleh karena hal-hal tersebut itu, saya sering menanyakan seperti pemazmur di Mazmur 42 dan 43, "Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?" (Mz 42: 5a / 11a / Mz 43:5a) Saya harus memfokuskan diriku supaya membaca jawabannya dan mengingatkan diriku seperti pemazmur. "Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mz 42: 5b / 11b / Mz 43: 5b) Marilah kita jujur -- kadang-kadang kita harus dengan maksud berbicara sama diri sendiri baru kita sekali lagi berharaplah kepada Tuhan dan benar-benar menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan menerima kehendakNya di dalam segala hal.  

Tiba-tiba kemarin waktu saya berjalan olah raga pada pagi hari bersama anak-anak, saya melihat keindahan gunung-gunung yang terlihat di kejauhan (lihat foto di atas). Kata-kata dari Firman Tuhan di dalam Mazmur 121 muncul di beni otak saya dengan jelas. "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi." Gunung-gunung itu mengingatkan saya bahwa yang menciptakan gunung-gunung yang megah dan indah itu pasti dapat menolong saya dan semua yang berharap kepadaNya. 

Ingatlah saudara-saudaraku untuk meminta pertolongan dari Tuhan di saat yang saudara membutuhkannya. Dia akan selalu menepati janjiNya untuk menolong anak-anakNya. Kalau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari menyukai artikel ini, jangan lupa ya klik "follow" atau "subscribe via email" supaya mendapat artikel-artikel yang lain di masa depan. Syalom... Tuhan memberkati... 

The Truth About Me

It dawned on me one day recently, that my sense of worth was tied up with a ton of "must do's" and "must not do's...