Ijinkan saya bertanya kepada Saudara. Apakah saudara merasa bersalah atau berdosa tatkala saudara merasa marah? Apakah saudara berpendapat bahwa emosional seperti kemarahan, kesedihan, kecemburuan, dan ketakutan adalah emosional-emosional yang tidak baik, sedangkan kebahagiaan dan sukacita adalah emosional-emosional yang baik? Saya lama berpikir seperti itu dan oleh karena itu saya selalu mencoba untuk menekan perasaan marah di dalam hidup saya.
Seorang psikolog yang bernama Emma McAdam berbicara di dalam video Youtubenya yang berjudul "Fostering a Nonjudgmental Attitude -- The Lie of Positive and Negative Emotions", bahwa kita seharusnya tidak mengkategorikan perasaan manusia sebagai "baik" atau "tidak baik" tetapi sebaiknya sebagai "enak" or "kurang enak". Selanjutnya, dia katakan bahwa emosional-emosional yang kurang enak, seperti kekawatiran, kekecewaan, merasa bersalah atau ketakutan, mereka bisa menjalankan fungsi yang sangat penting" (terjemahan bebas dari saya). Sebagai contoh, seorang anak merasa takut sehingga dia tidak mendekati seekor anjing yang jahat dan akibatnya dia tidak digigit anjing itu. Atau, seorang merasa kawatir tentang istrinya / suaminya akhirnya dia mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki perkawinannya. Jadi, kalau kita mengkategorikan emosional-emosional manusiawi sebagai "baik" atau "tidak baik" maka kita mendapat perspektif yang sangat sempit.
Kadang-kadang budaya kita, orang tua kita, ataupun gereja kita bisa mengajar bahwa emosional-emosional tertentu baik atau tidak baik, tetapi Firman Tuhan tidak mengajar seperti itu. Tuhan Yesuspun kadang merasa marah. Kita bisa bayangkan waktu Yesus membuat cambuk dari tali, dan mengusir penjual-penjual dari Bait Suci bahkan membalikan meja-meja (Yohanes 2:13-17). Selain dari itu, Yakobus mengajarkan, "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Jak.1:19). Yakobus tidak bilang, "Hai saudara-saudara yang kukasihi, setiap orang harus berhenti jadi marah." Dia sadar kalau itu tidak mungkin manusia tidak marah. Yakobus bilang kita harus menjadi lambat untuk menjadi marah. Dan kenapa begitu? "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yak.1:20). Amarah bisa membuat kita berdosa.
Oleh karena itu, rasul Paulus juga menasehati kita di dalam Efesus 4:26-27: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu." Kita harus hati-hati supaya tatkala merasa marah, kita tidak memperbolehkan iblis untuk bekerja di dalam hati kita.
Kalau begitu, bagaimana dengan Kolose 3:8? Disitu rasul Paulus menulis: "Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu." Apakah rasul Paulus berasumsi bahwa perasaan marah itu berdosa, sama-sama dengan geram, fitnah dan lain-lain? Di www.bibleref.com, menjawab pertanyaan, "What does Colossians 3:8 mean?" mereka berasumsi bahwa marah yang ditujuhkan disini bukan marah yang suci atau marah yang terkontrol, melainkan "ledakan kemarahan yang tak terkendali" yang "tidak boleh dilihat di dalam kehidupan seorang Kristen" (terjemahan bebas dari saya).
Perhatikan juga, kalau rasul Paulus tidak bilang "menekan" kemarahan, tetapi "buanglah". Agar supaya berhasil membuang kemarahan itu, kita harus bisa sadar tentang keberadaannya, membuat evaluasi tentang perasaan itu dan memproses perasaan itu secara baik. Dan tentu, kita harus bisa mengampuni kalau memang ada orang yang membuat salah kepada kita. Tetapi rasul Paulus tidak memakai kata menekan. Kalau kita menekan atau sengaja saja bahwa perasaan marah tidak ada, maka satu saat situasi akan meledak.
Apakah proses ini gampang? TIDAK! Seringkali, semua itu sulit, apalagi kalau orang yang menyakiti kita adalah keluarga yang dekat atau teman akrab. Dan kadang-kadang kita harus bisa mengampuni berulang kali, seperti ditulis di Matius 18:21-22. Tetapi, meskipun sulit, dengan anugerah Tuhan dan dengan pekerjaan Roh Kudus, kita bisa membuatnya!
No comments:
Post a Comment