Saturday, October 23, 2021

Semua Yang Indah

Pernahkah Bapak / Ibu / Saudara / Saudari sementara kerja dengan memakai internet, dan signal lemah? Bagaimana perasaan Bapak / Ibu / Saudara / Saudari? Pernahkah listrik padam selama delapan jam, dan makanan di kulkas menjadi rusak? Apakah Bapak / Ibu / Saudara / Saudari merasa stress waktu itu terjadi? Kalau saudara adalah pelajar, apakah pernah merasa cemas kalau tugas-tugas terlalu banyak? Sadar atau tidak, kecemasan (yang juga sering disebut "stress") adalah sesuatu yang mempengaruhi kita semua. Kecemasan itu bukan semata-mata hal yang buruk. Kecemasan itu bisa memotivasi kita untuk bekerja atau selesaikan sesuatu tugas "on time". Akan tetapi, kalau kecemasan itu terlalu banyak dan akibatnya kita menjadi sulit untuk membuat tugas-tugas seharian kita, atau pun kalau stress itu mulai mengganggu kesehatan kita, maka kecemasan itu sudah tidak menolong lagi. 

Bagaimana dengan Bapak / Ibu / Saudara / Saudari? Apakah Bapak / Ibu / Saudara / Saudari pernah mengalami atau sedang mengalami kecemasan yang cukup mengganggu? Apakah kadang-kadang stress itu mengganggu kualitas hidup Bapak / Ibu / Saudara / Saudari? Jangan salah paham, kadang-kadang orang-orang sembunyi hal ini. Ada banyak orang yang tidak pernah akui kalau dia hadapi banyak stress, tetapi mungkin tanda-tanda antara lain adalah: merokok berat, minum alkohol yang berlebihan, sering marah-marah, bahkan mengutuk orang. Ada juga banyak penyakit yang bisa muncul oleh karena tingkah stress yang kita hadapi terlalu berat. Penyakit itu bisa saja ada penyebab fisik tetapi sering juga penyebab fisik tidak ditemui. Itu karena sering kali penyebabnya adalah penyebab psikologi atau emosional. Penyakit atau kondisi itu antara lain adalah: sakit mah dan penyakit pencernaan yang lain, sakit belakang atau bahu yang tidak hilang, sakit kepala dan juga migren. Itu sebenarnya tanda bahwa mungkin orang itu sulit hadapi pemicu-pemicu stress di dalam hidupnya. 

Mungkin ada dari pembaca yang tahu kalau saya juga terkadang bergumul dengan sering merasa cemas. Sebelum Covid, saya merasa demikian karena mungkin sifat saya terlalu berhati-hati atau sedikit penakut :).  Saya tidak tahu dengan keadaan Saudara tetapi sejak adanya Covid, PPKM, dan lain-lain, saya mulai lebih cemas dari sebelumnya. Akan tetapi, sejak tanggal enam Oktober pagi, saya justeru merasa jauh lebih baik dan hampir tidak merasa stress lagi. Apa yang terjadi? Pagi itu saya merasa terinspirasi oleh Tuhan dan saya harus menulis inspirasi itu. Ini yang saya menulis di jurnal saya...

Tuhan memberi saya inspirasi pagi ini waktu saya masih berbaring di tempat tidur. Dan inspirasi itu mulai dari Filipi 4:8 yang berbunyi demikian: "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Saya sadar sekarang bahwa saya dari kecil sampai sekarang tidak pegang konsep itu. Malah saya buat yang sebaliknya! Saya selalu berpikir banyak tentang hal-hal yang menakutkan, tentang apa yang orang-orang buat yang jahat, dan saya bayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi kepada saya atau keluarga saya.  Sekarang baru saya sadar betapa bodok kebiasaan itu! Tetapi saya tidak perrnah evaluasi kebiasaan itu atau bertanya diri saya sendiri apakah kebiasaan itu berguna untuk saya atau tidak. Suami saya pernah menyuruh saya dengan humor, bahwa saya seharusnya menulis buku horor, karena saya begitu pintar membayangkan hasil-hasil yang buruk.  

Dalam bahasa Inggris ada sepatah kata yang berbunyi: "Practice makes perfect" Arti ekspresi itu adalah: latihan menghasilkan kesempurnaan. Memang itu benar. Kalau kita berlatih dengan keras suatu skill maka kita akan lebih dekat dengan kesempurnaan. Dan saya sudah berlatih "skill" saya dengan keras. 😂 Sayangnya, skill itu tidak bagus! Saya sangat kecewa dengan apa yang saya sudah buat di dalam hidup saya. Tuhan sudah memberikan kepada saya kunci hidup yang lebih baik. Kunci hidup yang lebih penuh dengan damai sejahtera. Kalau selalu merenung hal-hal yang menakutkan kita sendiri menjadi orang-orang yang makin hari makin takut dan cemas dan stress menghadapi hidup. Jadi sekarang saya mau merubah hidup saya. Saya mau merubah kebiasaan saya dari merenungkan dan menghayal hal-hal yang buruk yang bisa terjadi, dan sekarang saya mau mengaplikasikan Filipi 4:8. Saya mau berpikir tiap hari yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar... ya, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji! 

Saya tidak mau menulis cerita horor. Saya mau menulis cerita yang penuh kebahagiaan dan damai. Saya mau menulis, berpikir, dan menghidupkan cerita kebenaran Tuhan. Saya akan mengisi otak saya dengan semua pikiran yang indah seperti tertulis di Filipi 4:8. "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Kata-kata itu yang ditulis oleh Paulus dan Timotius dari Tuhan memang sederhana tetapi juga sangat dalam! Kata-kata itu akan merubah hidup saya. Sebagaimana Paulus dan Timotius menulis di ayat yang berikut, ayat 9: "Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu." Kalau kita melakukan itu, maka kita akan mendapat damai sejahtera dari Tuhan.

Itu, Bapak / Ibu / Saudara / Saudari, yang saya menulis di jurnal saya sekitar dua minggu yang lalu. Itu cerita pribadi saya yang sebenarnya saya tidak membuka dengan orang lain. Tetapi saya tahu bahwa saya tidak sendiri. Ada banyak orang lain yang juga sering merasa stress, cemas, dan takut. Kadang-kadang mereka tidak terbuka, tetapi kita melihat tingkah laku mereka sering tegang, atau marah-marah. Kalau mereka jujur, sebenarnya mereka mengalami stress. Jadi saya sharing tulisan saya ini agar supaya bisa menolong orang-orang lain yang membutuhkannya. Mungkin Bapak / Ibu / Saudara / Saudari bukan orang yang tipe ketakutan dengan apa yang ada di depan, tetapi bisa saja saudara sering merenung dan merasa depresi dengan apa yang sudah terjadi di hidup saudara. Atau mungkin Bapak / Ibu / Saudara / Saudari menghadapi sesuatu yang berat misalnya ada suami / istri / anak yang sakit berat, atau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari punya masalah di dalam pernikahan atau di dalam relasi keluarga, atau apapun yang Bapak / Ibu / Saudara / Saudari hadapi, kiranya strategi sorgawi yang luar biasa di Filipi 4:8 bisa menolong Bapak / Ibu / Saudara / Saudari. Akui dulu kesulitan yang Saudara hadapi, dan perasaan sedih / takut / duka yang Saudara rasakan. Lalu minta Tuhan menolong Saudara supaya mampu mengisi otak dengan semua yang benar, mulia, adil, dan manis yang Tuhan berikan. Pasti Saudara akan merasakan kedekatan Tuhan dan otak Saudara dan hati Saudara akan diisi dengan damai sejahtera Tuhan.   

Kalau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari merasa diberkati Tuhan dari Filipi 4:8, silahkan share di bagian comment di bawa. Dan Bapak / Ibu / Saudara / Saudari kalau belum buat, silahkan "follow" atau "subscribe via email" agar bisa membaca artikel-artikel lain yang akan datang. Charis dan Syalom. 

Beautiful Things

Please Note: In this article I am not suggesting that people who are dealing with hard things should just "think positive" or "put a smile on your face". On the contrary, that would be insensitive of me to suggest, and besides that approach would probably backfire. The following article is a story of my personal struggle and my particular bad habit of letting my mind dwell on possible negative outcomes and on evil that is in the world. Please keep this in mind as you read this article. 

Anxiety is something that affects all of us. Most people get anxious when they find themselves driving in congested traffic or when they have too much work to do and too little time in which to get it done. Students often get anxious when they have been given a lot of homework or when facing exams. Anxiety can be a good thing when it motivates us to get things done, but it can also be a bad thing when it affects our ability to perform every day activities or when it affects our health. According to the National Alliance on Mental Illness, over 40 million adults (19.1% of the population)  in the United States experience an anxiety disorder. Approximately 7% of children also have anxiety issues. And those figures are only referring to anxiety disorders. There are also many people struggling with depression, others with eating disorders, and the like. How about  you? Do you struggle with anxiety or any of the related issues? Are you looking for answers? I hope this article might be of some help to you in your personal struggle or as you try to help a loved one.

 As some of you may know, I have also struggled with anxiety. I guess it was already a problem before Covid, but with the pandemic, lock downs, etc. my anxiety rose to uncomfortable and disruptive levels. However, about two weeks ago I reached a culminating point in my struggle with anxiety. From the morning of October 6 I have experienced much less anxiety. What happened you may ask? That morning I felt very much inspired. So much so, that I just HAD to get up and write. This is what I wrote in my diary that morning....

God gave me inspiration this morning as I lay awake on my bed. It started from this verse: Philippians 4:8. "Finally, brothers, whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable -- if anything is excellent or praiseworthy -- think about such things."

From my childhood until now, I have not put this concept into practice. In fact, I have done the exact opposite. Yes, I love to think about and dwell on such things as: frightening or scary ideas, bad / corrupt things that people (or governments) are doing, possible bad outcomes that could take place, etc. I let those thoughts play over and over in my mind. I have a vivid imagination, too, so as they play out in my mind, they become scarier, darker, and more evil. Basically, I freak my own self out. If I think about it, what a dumb thing to do! But I adopted this practice, trained myself in it, and never stopped to evaluate if it was a good habit or not. And indeed, at age 44 I have perfected my art. I am a professional. As my husband has often jokingly suggested, I should write a horror story -- it would probably be a best seller! 😂

As with most things in life, practice makes perfect. But I am horrified to think where this practice has taken me. As I have said, I have ruminated so much on negative possibilities and ideas, that I have often freaked my own self out! As a result, from time to time I experience high levels of anxiety, panic attacks, digestion issues, and insomnia.. But now I want to put on the brakes. I want to change this bad habit of mine! 

I feel like God has given me the answer in the early hours of this morning. He has given me the clue to my problem.in that verse above -- Philippians 4:8. I need to stop thinking about negative things and instead spend lots of time thinking about true, noble, right, pure, lovely and admirable things! Excellent and praiseworthy things! Cuz I don't want to write a horror story. I want to write stories of joy and peace, stories that inspire and motivate. I want to write about, think about, and live out God's story. 

I realize it's not going to be easy to change a habit that has been perfected over many, many years. How will I stop the negative thoughts from coming into my mind? Well, I have come up with my own strategy. It is an illustration that will help me stop the negative thoughts from coming. I know that I am good with my imagination, so I will put that talent to good use. 😊 Here's my strategy. Once I have thought something through or made a decision about something, I will not allow myself to take it out and stew over it again. I won't allow myself to ask, "But what if ... ?" or "Maybe ... will happen." How will I do that? I will imagine that I am going on a trip. I have already packed my bags, so that would be stupid to unpack again or to even pull some things back out. My things would get all messed up and I would have to stop, open the suitcase, and re-pack everything! So every time I think, "But what if...? or simply imagine the worst case scenario, I will tell myself, "No! Put that back in. You're already packed!" 

And then, I'll remind myself again of Philippians 4:8. "Finally, brothers, whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable -- if anything is excellent or praiseworthy -- think about such things." What simple yet profound words from God, through Paul and Timothy! For me, life-changing words! I don't think my life will be quite the same again. As Paul and Timothy say in the next verse, Philippians 4:9: "Whatever you have learned or received or heard from me, or seen in me—put it into practice. And the God of peace will be with you."

That is what I wrote in my diary on the morning of October 6. My personal struggle in life has been dealing with anxiety. Perhaps you can identify with that and my diary entry can be of great help to you. But perhaps you have other difficult things on your plate. Perhaps there is depression. Perhaps you are dealing with marriage problems, a loved one that is sick or dying, or something else that is stressful. It is my hope that Philippians 4:8 will be a great source of inspiration and hope for you too. It doesn't mean that we gloss over our struggles. Of course not. They are painful and they cause us to have many "negative" feelings (sadness, anger, grief, etc.) We must acknowledge the pain that is there and the feelings that we are having. But at the same time, after we have acknowledged those feelings, we can then choose to "think about such things" as the beautiful aspects of our life in Christ. Then, despite the fact that the difficulty might still be there, God's peace will fill our lives.

If you feel blessed in some way by Philippians 4:8, feel free to write about it in the comment section below. And, if you haven't already done so, please either "follow" or "subscribe via email" so that you can read more of my articles in the future. Grace and peace to you all!   

(To see the original article from the National Alliance on Mental Illness referred to in my first paragraph you can go to: https://www.nami.org/About-Mental-Illness/Mental-Health-Conditions/Anxiety-Disorders) 

Wednesday, August 4, 2021

"Positive Thinking" Yang Sejati

Ijinkan mengawali artikel saya ini dengan pertanyaan ini: Bagaimana Bapak / Ibu / Saudara / Saudari melihat dunia ini? Apakah Bapak / Ibu / Saudara / Saudari melihatnya dengan perspektif bagaikan gelas yang setengah penuh atau dengan perspektif gelas yang setengah kosong? Saya harus jujur, saya terkadang melihat kehidupan ini dengan perspektif yang sedikit negatif. Jikalau benar-benar ada hal yang negatif, otak saya membuatnya lebih negatif lagi. Otak saya sering menganalisa secara mendalam dan melompat lalu berpikir sambil mengandai-andai tentang yang paling buruk, atau worst case scenario. Ini pergumulan pribadi saya yang sering saya pikirkan yang membuat saya makin mendekati diri saya ke Tuhan untuk mencari kekuatan dari Tuhan.

Tatkala saya melihat dengan perspektif gelas yang setengah kosong itu, di pihak lain suami saya justru berpikir yang berlawanan dengan cara pikirnya saya. Dia tidak berpikir gelasnya setengah kosong atau pun setengah penuh. Dia selalu melihatnya gelas itu sudah penuh! Suatu kali saya mengkritiknya dan menuduh dia bahwa dia terlalu positif atau idealistik atau over-optimistik. Tetapi dia membalas kritikan saya dengan berkata, "Ya, tetapi orang-orang ahli matematika menyuruh kita untuk estimasi ke nomor yang lebih besar tatkala angka persis di tengah kan? Jadi saya tidak salah." Saya pun kaget dan tertawa. Tetapi saya merasa bersyukur karena saya mendapat seorang partner yang bisa menolong saya untuk menjadi lebih balance. Suami saya sering menyuruh saya untuk "berpikir positif". Menurut saya, itu gampang untuk bicara, tetapi sulit untuk mempraktekannya. Itu membutuhkan perubahan pola pikir yang sungguh-sungguh radikal dan drastis. Bagi saya itu bukan hal yang gampang.

Akan tetapi, saya bersyukur karena minggu lalu saya membaca satu ayat Firman Tuhan yang luar biasa. Ayat itu sangat menolong saya untuk bagaimana mulai berpikir lebih positif. Ayat itu adalah Mazmur 119:64 yang mengatakan, "Bumi penuh dengan kasih setia-Mu, ya TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku." Bayangkan Bapak / Ibu / Saudara / Saudari -- bumi ini penuh dengan kasih Tuhan! Saya suka sekali kalimat itu! Tiap hari saya berpikir tentang kebenaran itu. Sekarang dari pada saya melihat sekitar saya yang membuat saya kawatir, sedih atau marah, lebih baik saya mencari kasih Tuhan itu. 

Beberapa hari yang lalu, saya merasakan kasih Tuhan waktu seorang teman mengirim saya pesan yang menguatkan. Saya juga sadar tentang kasih Tuhan tatkala saya membangun pagi setelah tidur yang enak dan melihat matahari bersinar lagi. Waktu saya membaca ayat-ayat Firman Tuhan yang memberikan jawaban untuk pergumulan saya, saya sadar bahwa itu juga bukti kasih Tuhan. Memang, saat ini saya sedang duduk sambil menulis blog ini di depan sebuah air terjun yang indah sambil mendengar bunyi suara alunan jatuhnya  air terjun itu yang begitu dahsyat. Itupun kasih Tuhan terhadap saya dan terhadap anak-anak saya yang sudah bosan di rumah karena peraturan PPKM yang masih berjalan terus. 

Memang, Bapak / Ibu / Saudara / Saudari , bumi ini penuh dengan kasih setia Tuhan! "Membuka mata-ku ya Tuhan, agar saya terus mencari bukti kasihMu di sekitar saya. Dan ajarlah saya, Tuhan, tentang ketetapan-ketetapanMu agar saya mendapat perspektif yang lebih jelas dan lebih benar supaya saya bisa melayaniMu dan melayani sesamaku dengan lebih semangat."

Kalau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari ada teman atau saudara yang bisa diberkati dengan artikel ini, silahkan dishare linknya ya. Terima kasih atas dukungannya untuk tulisan saya di blog ini. Tuhan memberkati kita semua.... 

True Positive Thinking

When you look around you, do you perceive the glass to be half full or half empty? I have to be honest, I often look at life through negative-tinted glasses. I can assume a situation is negative, when it is really not. When I see or hear something that is negative, I often blow it up to catastrophic proportions in my mind. I often think of worst case scenarios. It is something I struggle with.

While I often have a "glass half empty perspective" of life, my spouse has the opposite tendency. He does not view the glass as "half empty" or even "half full", but rather as "full". Once when I questioned him about this, and accused him of being idealistic and over-positive, he reasoned that his way must not be wrong since mathematicians also round up when estimating a number that is exactly in the middle. I had to chuckle at his way of looking at it. I am truly thankful, though, to have a partner who helps to balance me out. He often encourages me to "think positive". It's hard though, to change a whole way of thinking. If, for example, you see a person and you believe in your mind that the color of her hair is "dirty blonde", it is hard to just say with any conviction that she has golden hair. 

However, last week I was reading my Bible and found an absolute gem of a verse. It literally stopped me in my tracks. It was Psalm 119:64 which says, "The earth is filled with your love, Lord; teach me your decrees." Think of that -- the earth is filled with God's love! I am now holding on to that verse every day, to keep myself from getting into the trap of negative thinking and to help me think more positively. Instead of letting my thoughts dwell on the sad, scary or annoying things happening in my life, I find myself looking around now to find evidence of God's love. For example, the other day I felt His love for me when a friend sent me an encouraging message. I also saw God's love when I woke up after a good sleep and saw that the sun had once again risen and was shedding its warm rays on the street in front of our house. When I read a passage of Scripture that just "so happened" to touch on a specific issue that I was facing, I was acutely aware that that was another evidence of God's love for me. In fact, I can see God's love right now, as I sit before a beautiful waterfall and hear the roar of its cascading water. I am aware that it is because of God's love that my kids and I were able to find this peaceful spot in nature only 45 minutes from our house and have a time of refreshing during this lock down our country is experiencing. 

Indeed, this world is filled with God's love! "Open my eyes Lord, that I would continue to look for and see your love all around me. And teach me Lord, your decrees - more truths from you Word - so that I will have a better and more clear perspective of life and ultimately serve you and my neighbors more effectively.

If you feel this article might be a blessing to some people that you know, please feel free to share the link with them. And thank you for your continued support of my writing through this blog. May God bless you all! 

Wednesday, July 28, 2021

Bersinarlah Yesus, Bersinarlah

Kira-kira satu bulan yang lalu, saya menulis tentang Firman Allah sebagai sebuah lampu yang menerangi jalan yang gelap. Firman Tuhan bisa menjadi penolong untuk kita, bisa membawa kehidupan untuk kita, dan bisa menguatkan hati kita, asal kita membacanya dan menghargainya sebagai sesuatu yang sangat berharga di dalam hidup kita. Tetapi, setelah itu, apa yang akan kita buat? Apakah kita akan memegang terang itu dengan erat dan hanya memakainya untuk diri sendiri? 

Firman Tuhan di dalam Lukas 11 ayat 33 katakan bahwa, "Tidak seorangpun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya." Ini adalah tantangan bagi Saudara dan saya. Apakah kita ingin agar lampu terang itu menerangi kehidupan kita sendiri saja, atau kita juga siap bercahaya untuk kehidupan orang lain?

Tanggung jawab kita pertama adalah terhadap keluarga kita sendiri. Di dalam Ulangan 11 ayat 19 katakan bahwa "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu  dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun". Itu bukan tugas yang ringan saudara-saudara. Saya berbicara dengan anak-anak saya tentang kebenaran Firman Tuhan di siang hari tetapi saya tahu pasti saya tidak bicara dengan mereka di malam hari. Malah, kalau saya sudah siap diri untuk berbaring, lalu anak-anak datang mengganggu saya, saya biasanya bukan bicara dengan mereka tentang kebenaran Firman Tuhan tetapi saya bicara dengan kata-kata agak marah!

Kita harus bercahaya di dalam keluarga kita masing-masing. Tetapi kita harus bercahaya lebih jauh lagi dari pada hanya kepada keluarga kita. Di dalam Firman Tuhan yang sama, di ayat yang ke-18 dikatakan bahwa kita harus mengikat Firman Tuhan di tangan kita dan menaruhnya di dahi kita. Bahkan, ayat 20 menyuruh kita agar kita menulis kata-kata Firman Tuhan di tiang pintu rumah dan di pintu gerbang kita. Artinya, siapa saja yang kita bertemu dan siapa saja yang datang ke rumah kita, mereka harus mendengar dan melihat kesaksian atau contoh hidup tentang Injil Tuhan Yesus. Kalau mereka percaya atau tidak, itu bukan masalah kita, tetapi orang-orang harus dengar tentang Firman Tuhan lewat kita. 

Saya teringat tentang lagu Kristen yang sangat terkenal di dunia barat. Lagu itu, ditulis oleh Graham Kendrick di tahun 1988, berjudul "Shine, Jesus, Shine". Refnya seperti ini:

Shine, Jesus, shine
Fill this land with the Father's glory
Blaze, Spirit, blaze
Set our hearts on fire
Flow, river, flow
Flood the nations with grace and mercy
Send forth your word
Lord, and let there be light

Kalau kita menyanyi lagu itu kita meminta Tuhan Yesus untuk bercahaya di dunia, dan meminta Roh Kudus untuk bersinar agar hati kita masing-masing menjadi seperti api yang menyala-nyala. Kita meminta Firman Tuhan keluar dari kita dengan kasih dan anugerah Tuhan kepada semua bangsa di dunia. 

Doa saya hari ini adalah: "Tuhan, tolong bekerja di dalam hati kita masing-masing dengan Roh Kudus dan membuat kita dengan tujuan yang jelas dan dengan rencana yang baik, memancarkan terangMu ke dalam kehidupan siapa saja yang melintasi jalan kita. AMIN"

Kalau artikel ini sudah membawa berkat ke dalam hidup Bapak / Ibu / Saudara / Saudari, silahkan klik "follow" atau "subscribe via email" agar bisa mendapat lebih banyak artikel lagi seperti ini. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Soli Deo Gloria.

Shine, Jesus, Shine

About a month ago, I wrote about God's Word guiding us through life just as a needed lamp lights up someone's path in the darkness. That Word of God can be so helpful, life-giving, and encouraging but in order to reap the benefits, we will need to read it and treasure it as something that is very precious. But after that, what do we do with it? Will we hog that lamp and use it only for ourselves?

God's Word says in Luke 11 verse 33 that "No one lights a lamp and puts it in a place where it will be hidden, or under a bowl. Instead, he puts it on its stand, so that those who come in may see the light." This is a challenge for you and I. Are we letting this lamp not only light up our own life, but also shine into the lives of others?

Our first responsibility should be towards our own families. For example, in Deuteronomy 11:19 we are commanded to "Teach them to your children, talking about them when you sit at home and when you lie down and when you get up." No easy task! I talk to my children about God's Word, but I am not sure I do it to that extent. Especially when I lie down at night; I don't think I share Biblical truths with my children while I'm lying down. In fact, when one of my children happens to interrupt my going to sleep, I can get quite grumpy! 

But it doesn't stop with just our families. In verse 18 of Deuteronomy 11 it says we need to bind the Word on our foreheads. Verse 20 even says to write God's Words on the door frames and gates of our houses! I think that means that wherever we go, and whenever people come over to our houses, people should hear about and see evidence of, the gospel in us and our families. Whether or not they accept it is not our problem, but they should be getting to know about God's Word through us. This is a humbling thought.

I am reminded of the refrain of the well-known Christian song, "Shine, Jesus, Shine" (composed by Graham Kendrick in 1988). It goes like this:

Shine, Jesus, shine

Fill this land with the Father's glory
Blaze, Spirit, blaze
Set our hearts on fire
Flow, river, flow
Flood the nations with grace and mercy
Send forth your word
Lord, and let there be light

My prayer today is this: "Lord, please work in our hearts with your Holy Spirit, and enable us to be more intentional and purposeful in shining your light into the lives of those we love and to all those whose lives are intertwined in some way with ours."  

If you haven't done so yet, and you feel that this article has blessed you in some way today, please feel free to either click "follow" or "subscribe via email" to get more articles like this in the future. May God bless you all! 

Wednesday, June 23, 2021

FirmanMu

"FirmanMu, pelita bagi kakiku..." Kemarin syair lagu ini terdengar secara lantang dan merdu di telinga saya. Ini adalah sebuah lagu Kristen yang terkenal yang dibuat oleh Amy Grant dan Michael W. Smith. Saya mendengarnya, tiba-tiba kata-kata yang berasal langsung dari Mazmur 119:105, membuat saya berpikir, "Apakah Firman Tuhan benar terang bagi jalanku?"

Tatkala saya merenungkan kata-kata Firman Tuhan sebagai lampu atau pelita, saya tiba-tiba teringat waktu saya kecil dan pergi berkemping bersama keluarga saya. Di tengah malam, tatkala saya bangun untuk pergi ke kamar kecil di luar, saya lalu berpikir apa yang saya butuhkan? Ya, tentu saya perlu sebuah lampu senter! Karena saya kurang mengenal area di tempat kemping itu, maka saya memang perlu senter agar saya jangan jatuh saat saya berjalan. Apa lagi di tempat itu ada banyak pepohonan, carang-carang pepohonan, batu-batu, dan benda-benda lainnya. Juga tidak ada listrik di tempat kemping itu. Jadi memang terlihat sangat gelap. Selain itu, ada  binatang-binatang liar seperti "skunk" ( ini adalah binatang di Kanada yang berwarna hitam-putih dan saat ia mengeluarkan cairan dari duburnya maka kita akan merasa bau busuk yang sangat menusuk),  juga ada ular, bahkan kemungkinan beruang yang harus diwaspadai! Jadi sangatlah penting untuk memegang sebuah senter jikalau mau keluar kemah pada malam hari untuk mencari kamar kecil. 

Sebagai orang Kristen, Firman Tuhan seperti lampu senter itu bagi saya. Firman Allah adalah bagian yang utama dalam hidup saya. Dia menunjukan kepada saya jalan yang saya harus lalui. Dia menunjukan kepada saya identitas yang saya miliki di dalam Kristus. Dia  menolong saya waktu jalan sulit. Dia juga memberikan kepada saya harapan agar saya bisa jalan terus. Hanya kadang-kadang saya tidak sadar betapa berharga Firman Allah bagi saya, dan saya menganggap enteng Firman Allah itu. 

Saya kadang mendengar cerita-cerita nyata tentang orang-orang percaya yang hidup di tempat yang sulit. Mereka harus beribadah tersembunyi.  Jikalau tidak, mereka pasti menghadapi penganiayaan atau pembunuhan. Saya dengar orang-orang itu bertemu dengan diam-diam dan bertukar ayat-ayat Alkitab yang mereka punyai. Kalau mereka mendapat ayat atau pasal Firman Tuhan yang baru, mereka cepat-cepat pulang dan mulai menghafal ayat-ayat bahkan pasal itu, agar supaya jikalau pemerintah mengambilnya, maka mereka sudah kuasai Firman itu di dalam hati mereka. Saya harap saya bisa menjadi seperti mereka, dan memegang Firman Tuhan sebagai barang yang sangat berharga.

Saya berdoa saya tidak harus melewati waktu yang sulit, baru saya sadar tentang nilai yang luar biasa dari Firman Tuhan. Saya berdoa saya bisa lebih rajin dengan waktu pribadi saya membaca Firman Allah dan tidak membuatnya setelah semua pekerjaan saya selesai, karena sebagaimana Tuhan Yesus sendiri katakan kepada Setan waktu dia dicobai oleh si Iblis di padang gurun, “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4 di mana Yesus mengutip dari Ulangan 8:3).

Kiranya refleksi-refleksi ini menginspirasikan kita semua (termasuk saya sendiri) untuk buat komitmen-komitmen yang lebih giat lagi, untuk membaca dan mempelajari Firman Tuhan secara pribadi, bersama teman, di gereja sebagai kelompok kaum perempuan atau kaum laki-laki, maupun mendengar Firman Tuhan yang dijelaskan oleh hamba-hambanya dengan baik tiap minggu di gereja. Kalaupun gereja harus lewat online sekarang karena kondisi pandemi yang ada, itupun tidak apa-apa. 

Tetaplah rajin! Karena, seperti Tuhan katakan kepada Yosua di dalam Perjanjian Lama, "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung" (Yosua 1:8). Dan sebagaimana Tuhan Yesus katakan di dalam Perjanjian Baru, "Berbahagialah orang-orang yang mendengarkan firman Allah dan menaatinya" (Lukas 11:28). 

Kalau artikel ini sudah membawa berkat ke dalam hidup Bapak / Ibu / Saudara / Saudari, silahkan klik "follow" atau "subscribe via email" agar bisa mendapat lebih banyak artikel lagi seperti ini. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Soli Deo Gloria.

Thy Word

"Thy Word is a lamp unto my feet and a light unto my path..." My voice rang out loud and clear the other night, as my husband plucked the strings of the guitar, singing the words of the familiar song composed by Amy Grant and Michael W. Smith. Those words, which come directly from Psalm 119:105 suddenly made me think, "Is God's Word really a light for my path?? 

As I pondered that analogy of the Word of God as a guiding light, I couldn't help recall camping trips with my family as a young girl. In the middle of the night, when I woke up and had to use the outhouse, what did I reach for? A flashlight! Unlike my family's home (of which I had memorized practically every piece of furniture and its location), this camping area was unfamiliar to me, so it was important to  have that flashlight so that I wouldn't trip over anything. Besides, it was outside, so there could be branches, bushes, a fire pit, etc. that I would need to be careful for. Being out on a campsite in the bush without electricity, it was also much darker than at home. And lastly, there might be animals around (skunks, snakes, even possibly bears!) and I definitely did not want to suddenly find myself up close with one of them. How very important to me was that flashlight in my hand, shedding light on everything before me on my way to the outhouse! If some noises suddenly made my heart skip a beat, I had only to shine the flashlight in the direction of the noises, and my fears would be instantly gone. 

As a Christian, God's Word is like that flashlight to me. It is such a huge part of my life, shedding light so that I can know which way to go in my life, showing me my identity in Christ, helping me get through the difficult times, and giving me hope to continue on. But sometimes, I forget how truly essential it is to me. And, I am ashamed to say, I take it for granted.

I have heard true stories of Christians living in difficult times and places who gather together secretly, sharing pieces of the Bible, and then memorize whole passages so that when they switch their section with another person, they will still have that part of the Word in their hearts. How I wish I could be more like them, treasuring God's word as the precious jewel that it is. 

I pray that I will not need difficult times in order for me to become aware of the true value of the Word. I pray that I will stop putting my daily personal meditation of the Word aside until after my work is all done. For, as Jesus Himself said to Satan when He was tempted by him in the desert, "Man shall not live on bread alone, but on every word that comes from the mouth of God" (Jesus quoting Deuteronomy 8:3 in Matthew 4:4). 

May these simple reflections of mine inspire us all (especially myself!) to renew our commitments to personal Bible study, studying the Word with a friend or spouse, women's / men's / couple's Bible studies, as well as attentive listening to weekly sermons. Even if some of those methods of studying God's Word need to be done online due to the current conditions, it can still continue! For, as God said to Joshua in the Old Testament, "Keep this Book of the Law always on your lips, meditate on it day and night, so that you may be careful to do everything written in it. Then you will be prosperous and successful" (Joshua 1:8). And, as Jesus said in the New Testament, "Blessed ... are those who hear the Word of God and obey it" (Luke 11:28).

If this article was worth your time to read and you feel blessed in some way by it, please click "follow" or "subscribe via email" to get more of my articles in the future. God bless you all.

Saturday, June 12, 2021

Janganlah Matahari Terbenam Sebelum Padam Amarahmu

Ijinkan saya bertanya kepada Saudara. Apakah saudara merasa bersalah atau berdosa tatkala saudara merasa marah? Apakah saudara berpendapat bahwa emosional seperti kemarahan, kesedihan, kecemburuan, dan ketakutan adalah emosional-emosional yang tidak baik, sedangkan kebahagiaan dan sukacita adalah emosional-emosional yang baik? Saya lama berpikir seperti itu dan oleh karena itu saya selalu mencoba untuk menekan perasaan marah di dalam hidup saya. 

Seorang psikolog yang bernama Emma McAdam berbicara di dalam video Youtubenya yang berjudul "Fostering a Nonjudgmental Attitude -- The Lie of Positive and Negative Emotions", bahwa kita seharusnya tidak mengkategorikan perasaan manusia sebagai "baik" atau "tidak baik" tetapi sebaiknya sebagai "enak" or "kurang enak". Selanjutnya, dia katakan bahwa emosional-emosional yang kurang enak, seperti kekawatiran, kekecewaan, merasa bersalah atau ketakutan, mereka bisa menjalankan fungsi yang sangat penting" (terjemahan bebas dari saya). Sebagai contoh, seorang anak merasa takut sehingga dia tidak mendekati seekor anjing yang jahat dan akibatnya dia tidak digigit anjing itu. Atau, seorang merasa kawatir tentang istrinya / suaminya akhirnya dia mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki perkawinannya. Jadi, kalau kita mengkategorikan emosional-emosional manusiawi sebagai "baik" atau "tidak baik" maka kita mendapat perspektif yang sangat sempit. 

Kadang-kadang budaya kita, orang tua kita, ataupun gereja kita bisa mengajar bahwa emosional-emosional tertentu baik atau tidak baik, tetapi Firman Tuhan tidak mengajar seperti itu. Tuhan Yesuspun kadang merasa marah. Kita bisa bayangkan waktu Yesus membuat cambuk dari tali, dan mengusir penjual-penjual dari Bait Suci bahkan membalikan meja-meja (Yohanes 2:13-17). Selain dari itu, Yakobus mengajarkan, "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Jak.1:19). Yakobus tidak bilang, "Hai saudara-saudara yang kukasihi, setiap orang harus berhenti jadi marah." Dia sadar kalau itu tidak mungkin manusia tidak marah. Yakobus bilang kita harus menjadi lambat untuk menjadi marah. Dan kenapa begitu? "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yak.1:20). Amarah bisa membuat kita berdosa.

Oleh karena itu, rasul Paulus juga menasehati kita di dalam Efesus 4:26-27: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu." Kita harus hati-hati supaya tatkala merasa marah, kita tidak memperbolehkan iblis untuk bekerja di dalam hati kita.

Kalau begitu, bagaimana dengan Kolose 3:8? Disitu rasul Paulus menulis: "Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu." Apakah rasul Paulus berasumsi bahwa perasaan marah itu berdosa, sama-sama dengan geram, fitnah dan lain-lain? Di www.bibleref.com, menjawab pertanyaan, "What does Colossians 3:8 mean?" mereka berasumsi bahwa marah yang ditujuhkan disini bukan marah yang suci atau marah yang terkontrol, melainkan "ledakan kemarahan yang tak terkendali" yang "tidak boleh dilihat di dalam kehidupan seorang Kristen" (terjemahan bebas dari saya). 

Perhatikan juga, kalau rasul Paulus tidak bilang "menekan" kemarahan, tetapi "buanglah". Agar supaya berhasil membuang kemarahan itu, kita harus bisa sadar tentang keberadaannya, membuat evaluasi tentang perasaan itu dan memproses perasaan itu secara baik. Dan tentu, kita harus bisa mengampuni kalau memang ada orang yang membuat salah kepada kita. Tetapi rasul Paulus tidak memakai kata menekan. Kalau kita menekan atau sengaja saja bahwa perasaan marah tidak ada, maka satu saat situasi akan meledak.

Apakah proses ini gampang? TIDAK! Seringkali, semua itu sulit, apalagi kalau orang yang menyakiti kita adalah keluarga yang dekat atau teman akrab. Dan kadang-kadang kita harus bisa mengampuni berulang kali, seperti ditulis di Matius 18:21-22. Tetapi, meskipun sulit, dengan anugerah Tuhan dan dengan pekerjaan Roh Kudus, kita bisa membuatnya!

Don't Let the Sun Go Down on Your Anger

I have a question for you. Do you feel bad about yourself when you get angry with someone? In other words, do you feel that anger is sinful? Or at least, that anger, along with sadness, jealousy, worry and fear, are the "bad emotions" while happiness, joy, and excitement dwell in the category of "good emotions"? If you answered yes to any of those questions you are not alone. Until very recently, somewhere in the back of my brain, without really being aware of it, I believed that anger was a sinful emotion and that as a good Christian I should not get angry but always be pleasant. As a result, I often suppressed feelings of anger.

Emma McAdam, a licensed marriage and family psychologist, says in her Youtube video "Fostering a Nonjudgmental Attitude -- The Lie of Positive and Negative Emotions", that we shouldn't label emotions as "good" or "bad" but that instead should see them as "comfortable" or "uncomfortable". In other words, emotions such as sadness, anger and fear make us feel uncomfortable and are more difficult to deal with, while joy and gladness are more nice, enjoyable feelings. Furthermore, she says that "uncomfortable emotions, like worry, disappointment, guilt or fear, they can serve a very important function." For example, fear can prevent a child from getting close to a vicious dog and getting bitten. Worry about how a spouse has been feeling, can prompt a person to take positive actions for the good of his or her marriage. If we label human emotions as simply "good" or "bad" emotions, we may end up having a very narrow perspective of things.

Our culture, upbringing, or even our church, can sometimes promote this idea that certain emotions are bad and others good, but I don't think that God teaches that in His Word. Jesus Himself got angry. Think of the classic example of Jesus turning over the money tables in the temple (see Mat.21:12-13, Mark 11:15-18, Luke 19:45-46 and John 2:13-17). That indicates that anger is not in and of itself always bad. Furthermore, James says, "My dear brothers and sisters, take note of this: Everyone should be quick to listen, slow to speak and slow to become angry" (James 1:19). I think it is interesting that James does not say "My dear brothers and sisters, take note of this: Everyone should stop being angry." He realizes that it would be impossible for human beings to not ever be angry. No, James says instead that we should be "slow to become angry." And why? "because human anger does not produce the righteousness that God desires" (James 1:20)..Anger can cause us to sin. That's why Paul cautions us in Ephesians.4:26-27, "In your anger, do not sin: Do not let the sun go down while you are still angry, and do not give the devil a foothold." Paul too, acknowledges anger as a natural human emotion but he cautions us to be careful how we deal with that anger, so that we do not let the devil have his way when we are angry.

At this point, you might ask but what about verses such as Colossians 3:8? In Colossians 3:8, the apostle Paul writes, "But now you must put them all away: anger, wrath, malice, slander, and obscene talk from your mouth." Does it not seem like Paul is grouping anger together with other evil deeds and implying that we should not ever be angry? At www.bibleref.com in answer to the question "What does Colossians 3:8 mean?" they assume that the kind of anger that is mentioned here is not righteous anger or controlled anger, but "outbursts of uncontrolled anger" which are "not meant to be found in the life of a Christian."

Notice too, that Paul does not tell us to "suppress" those feelings of anger, but instead to "put them away". In order to put them away successfully, we will need to acknowledge those feelings of anger, evaluate them ("was I justified?") and process them. Forgiveness will also have to be a part of that process, if the anger was indeed justified. But Paul does NOT say to suppress them.

Is it easy to deal with the anger that we feel towards another person? No! It is often quite difficult, especially if that person is a close family member or a good friend, or if they have hurt us deeply. Sometimes, if the hurt is deep or the wounds far reaching, we might even have to get professional help in order to be able to put it behind us. Sometimes it might even be necessary to forgive someone again and again (see Jesus' answer to Peter in Matthew 18:21-22). It can be hard, but with God's grace and the working of the Holy Spirit, we can do it!

Wednesday, June 9, 2021

Dari Manakah Akan Datang Pertolonganku?

Artikel ini ditulis pada tanggal 18 April dan baru hari ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka hal-hal seperti bencana alam dan lain-lain sebenarnya terjadi lebih ke belakang dari pada tersirat di dalam artikel.

Maafkan saya karena saya tidak posting blog-blog yang baru selama beberapa minggu. Saya merasa  terlalu banyak hal yang saya alami sehingga saya merasa sulit meluruskan pikiran saya akibatnya saya  sulit untuk menulis sesuatu guna membangun orang lain.

Ada keluarga yang menghadapi kesakitan, memasuki masa tua bahkan bencana-bencana alam yang terjadi beberapa kali yang sungguh menguras tenaga dan pikiran. Tiap kali kami mendapatkan berita buruk seperti ini rasa-rasa seperti saya juga menderita bersama-sama dengan keluarga kami yang sedang alami penderitaan itu. Lebih dari itu, saya merasa tak berdaya karena saya tinggal jauh dari keluarga kami dan akibatnya tidak bisa buat apa-apa untuk menolong mereka. Saya merasa kaget setiap kali dapat berita yang baru dan saya merasa kasih dan sedih serta kawatir akan kenyamanan dan keselamatan mereka ditambah dengan kawatir akan kenyamanan dan keselamatan kami tatkala kota kami yang baru-baru mengalami gempa bumi yang cukup besar. 

Oleh karena hal-hal tersebut itu, saya sering menanyakan seperti pemazmur di Mazmur 42 dan 43, "Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?" (Mz 42: 5a / 11a / Mz 43:5a) Saya harus memfokuskan diriku supaya membaca jawabannya dan mengingatkan diriku seperti pemazmur. "Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mz 42: 5b / 11b / Mz 43: 5b) Marilah kita jujur -- kadang-kadang kita harus dengan maksud berbicara sama diri sendiri baru kita sekali lagi berharaplah kepada Tuhan dan benar-benar menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan menerima kehendakNya di dalam segala hal.  

Tiba-tiba kemarin waktu saya berjalan olah raga pada pagi hari bersama anak-anak, saya melihat keindahan gunung-gunung yang terlihat di kejauhan (lihat foto di atas). Kata-kata dari Firman Tuhan di dalam Mazmur 121 muncul di beni otak saya dengan jelas. "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi." Gunung-gunung itu mengingatkan saya bahwa yang menciptakan gunung-gunung yang megah dan indah itu pasti dapat menolong saya dan semua yang berharap kepadaNya. 

Ingatlah saudara-saudaraku untuk meminta pertolongan dari Tuhan di saat yang saudara membutuhkannya. Dia akan selalu menepati janjiNya untuk menolong anak-anakNya. Kalau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari menyukai artikel ini, jangan lupa ya klik "follow" atau "subscribe via email" supaya mendapat artikel-artikel yang lain di masa depan. Syalom... Tuhan memberkati... 

Sunday, April 18, 2021

Where Does My Help Come From?



My sincere apologies for not posting any new blogs for a couple of weeks. It felt like there were so many things coming at me one right after the other, that I could not even collect my thoughts together for myself, let alone put something into writing that might benefit others. 

Over the last couple of weeks loved ones faced illness, the effects of aging, and natural disasters. With each news that came, I felt as if I suffered right along with my loved ones, and on top of that came a feeling of helplessness as well, since distance did not allow me to be of any help to them. I felt shock, fear for the health and safety of loved ones, and sadness for the condition that they found themselves in. We even experienced a few moments of fear for our own safety, when our city experienced a fairly large earthquake as well. 

During these last couple weeks I found myself asking the same question the psalmist asks in Psalm 42 and Psalm 43, "Why are you downcast, O my soul? Why so disturbed within me?" (Psalm 42:5a / 11a & Psalm 43:5a) I had to intentionally remind myself as the Psalmist does, "Put your hope in God, for I will yet praise Him, my Savior and my God." (Psalm 42:5b &/11b & Psalm 43:5b). Let's be honest, sometimes it does take intentional self-talk before we truly do put our hope again in God and fully surrender and accept His will in all things. Then yesterday, as I went on a morning walk with my kids, my gaze rested on the beautiful mountains in the distance. As I took the photo above, I heard clearly in my mind the words of Psalm 121 verse 1 and 2, "I lift up my eyes to the hills -- where does my help come from? My help comes from the Lord, the Maker of heaven and earth." Those mountains were a reminder for me that the One who made those majestic mountains surely can and will help me through all my troubles and the troubles of all those who put their trust in Him. Remember to ask Him for help in your time of need, even when you don't feel like it. He will always follow through.

If you like this article and haven't done so yet, don't forget to click "follow" or "subscribe via email" to get more articles of this nature in the future.

Saturday, March 6, 2021

Kebahagiaan Dalam Yesus

   Dalam artikel - artikel sebelumnya, saya menulis tentang dua orang yang sekarang sudah menikmati kemuliaan yang kekal di surga. Saya menulis tentang bagaimana dalamnya kasih Tuhan bagi mereka dan oleh karena kasih dan pekerjaan Tuhan dalam mereka itu, mereka menunjukan kepada kita bukan saja iman yang teguh dalam Tuhan Yesus, tetapi juga contoh yang luar biasa bagaimana indahnya hidup dengan sukacita dalam Tuhan Yesus, meskipun sedang berada dalam penderitaan. Cerita yang pertama tentang seorang nenek yang sangat tua dan bungkok belakangnya, tetapi dia selalu senyum lebar dan setiap minggu dia rindu pergi ke rumah Tuhan. Cerita yang kedua tentang seorang bapak yang meskipun tidak bisa melihat, menjaga dan menyekolahkan 36 anak dari kampung. 

    Baru-baru saya membaca sebuah artikel dari Fox News yang ditulis oleh Caleb Parke, tentang seorang anak bernama Nia. Nia, dari Indonesia timur, mengalami Apert Syndrome akhibatnya tidak mempunyai jari kaki atau jari tangan dan wajahnya berbeda dari anak-anak yang lain. Meskipun Nia dibully karena penampiilan fisik yang berbeda, Nia selalu penuh dengan sukacita bahkan dia sudah mulai mempengaruhi komunitas disekitarnya oleh karena sikapnya itu. Orang tuanya selalu beritahu dia bahwa dia adalah hadiah dari Tuhan dan bukan ciptaan manusia. Kalau saudara ingin melihat artikel itu, silahkan melihatnya di: https://www.foxnews.com/faith-values/girl-god-jesus-perfect-joy.

    Bagaimana mungkin orang-orang seperti Nenek Bongko, Bapak Matheos yang buta, Nia yang cacat dan dibully, dan banyak orang lain bisa mendapat sukacita, damai sejahtera, dan kekuatan di tengah kesusahan mereka? Orang-orang atheis mengklaim bahwa orang-orang beragama memakai agamanya sebagai tongkat untuk menghadapi kehidupannya. Apakah itu benar? Saudara-saudara, kalau kita merenungkan sedikit tentang apa itu tongkat, kita pasti sadar bahwa klaim tersebut itu palsu. Sebuah tongkat bisa menolong seorang yang patah kaki atau cacat lain, tetapi saya belum melihat sebuah tongkat memberikan seorang sukacita dan damai sejahtera. Jelas disini, bahwa orang-orang seperti Nenek Bongko, Bapak Matheos, dan anak Nia dibebaskan oleh kebenaran! Mereka mendapat naik di atas masalah-masalah yang mereka hadapi karena mereka tahu bahwa mereka diciptakan Tuhan dengan maksud yang mulia, bahwa mereka sudah dibeli dengan darah Tuhan Yesus yang mahal, dan bahwa mereka punya masa depan yang luar biasa dan sempurna! 

    Dalam Mazmur 16 ayat 11, Raja Daud katakan bahwa, "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada nikmat senantiasa. Engkau akan memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada kepenuhan sukacita, di tangan kanan-Mu ada kebahagiaan selama-lamanya." Rasul Paulus, di dalam Roma 15 ayat 13, menyampaikan sebuah berkat yang berbunyi demikian, "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." Saya kira Nenek Bongko, Bapak Matheos, dan Nia penuh dengan sukacita karena kehadiran Tuhan di dalam hidup mereka, dan oleh karena mereka percaya kepadaNya. Kiranya Bapak / Ibu / Saudara / Saudari mengalami sukacita, damai sejahtera, dan pengharapan yang sama seperti mereka! 

    Kalau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari menyukai artikel ini, silahkan klik "follow" atau "subscribe via email" di sebelah kanan artikel ini. Dan, kalau  Bapak / Ibu / Saudara / Saudari mempunyai cerita yang lain di mana ada orang yang bersukacita meskipun menderita, mohon ditulis sedikit di dalam bagian "comment" dibawa biar kami semua diberkati dengan cerita itu. Charis dan Syalom. Tuhan Yesus memberkati.

Thursday, March 4, 2021

Joy in Jesus

    In earlier articles I shared about two beautiful individuals that are now in eternal glory. I shared about their lives because they are such great examples to us about living in the joy of Jesus despite great difficulties, handicaps, and the decaying of the body. I shared about a dear old lady who was so crooked she was nearly bent over to the ground. Yet, her toothless smile seemed to light up her whole face when you saw her and each week she looked forward with great anticipation to attending church. I also shared about a blind man who, despite obvious limitations on what he could accomplish in life, took into his home and under his guidance about 36 village kids to help them get an education.

    Recently I read an article from Fox News, written by Caleb Parke, about a physically deformed Indonesian girl named Nia. Because of a rare congenital condition called Apert Sydrome, Nia has no fingers or toes and looks different from other kids. The article stated that “Despite being bullied because of her physical appearance, Nia is full of joy and changing the way her community cares for others.” Her parents tell her daily that she is “God’s gift and not a creation of any man”.  If you are interested to read that full Fox News story, you can check it out at https://www.foxnews.com/faith-values/girl-god-jesus-perfect-joy.

    How is it possible that people like the crooked grandmother, blind Father Matheos, deformed and bullied Nia, and many others like them, can find joy, peace and surprising strength despite the great hardships that they face? Is it because, as many atheists claim, they use religion as a crutch to help them?  My dear friends, if you think about crutches, you will soon realize that this claim must be false. A crutch is useful and helpful to someone who has a broken leg or other physical problem, but I have never gotten the impression that a crutch brings joy or peace or strength. It is more accurate to say that a crutch merely helps the user “manage”. It is clear to me that the truth sets people like the crooked grandmother, Father Matheos, and Nia free. They were / are able to rise above their difficult circumstances because they know that they were created by God with a purpose, that they have been bought with Jesus’ precious blood, and that they have a beautiful future awaiting them!

    David says in Psalm 16:11, “You have made known to me the path of life; you will fill me with joy in your presence, with eternal pleasures at your right hand.” Paul says in Romans 15:13, “May the God of hope fill you with all joy and peace as you trust in Him, so that you may overflow with hope by the power of the Holy Spirit.” I think that the crooked grandmother, Father Matheos, and Nia were filled with joy because of God’s presence in their lives, and because they trusted in Him. May you and I experience that same joy, peace and hope!

    If you like this article, please click “follow” or “subscribe via email”. Also, if you have any similar, inspiring stories please share them in the comment section below. I would love to read them!

Thursday, February 18, 2021

Di Tengah Kekacauan

 Akhir-akhir ini, saya merasa bingung dan gelisah. Kenapa demikian? Karena dalam pandemi Covid-19 ini, saya membaca dan menonton berita yang justra saling berlawanan. Di ekstrim yang satu, saya mendengar bahwa ada banyak orang yang sakit berat dan / atau meninggal dunia oleh karena Covid-19. Oleh karena berita-berita seperti itu, banyak orang ketakutan. Beberapa minggu yang lalu saya merasa sakit akibatnya mengunjungi dokter di tempat prakteknya. Saya kaget melihat dokter tersebut, karena dia memakai masker yang abu-abu gelap yang sangat jelek dan yang menutupi hampir semua wajah dokter itu. Saya bayangkan kalau saya sempat membawa anak saya yang bungsu ke tempat itu, bisa-bisa anak saya akan lari ketakutan dari tempat praktek itu. Saya berpikir, “Wow, zaman ini berbeda sekali!”

Namun, di ekstrim yang satu, saya sudah membaca artikel-artikel dan menonton video-video di mana orang-orang percaya bahwa pendemi ini bukan saja direncanakan orang-orang tertentu dengan maksud yang jahat, tetapi bahkan pendemi ini cuman hoax. Mereka jelaskan bahwa ada banyak tes Covid yang hasilnya positif tetapi sebenarnya harusnya negatif. Artinya, tes yang dibuat orang-orang sains itu, tidak bisa dipercayai. Orang-orang seperti itu memberikan bukti, bahwa ada orang-orang yang mengambil dari binatang peliharaannya dan membawa sampel ke lab, dan hasilnya keluar positif. Mereka menklaim juga bahwa justru media yang membuat kita semua ketakutan jadi kita tidak berpikir dengan logika lagi.

Berita-berita yang sangat berlawanan seperti ini, membuat saya merasa bingung dan tidak tenang. Saya merasa seperti dunia kita sudah tidak ada arah lagi dan sudah sangat kacau. Kebenaran susah didapati. Saya bingung juga, saya harus mencari berita yang faktual di mana sekarang.

Tetapi Allah kita baik – sangat baik!! Saya percaya bahwa ayat-ayat yang saya dapati baru-baru ini, bukan secara kebetulan namun Tuhan ingin saya dapati ayat-ayat itu dengan maksud dan tujuan tertentu. Tuhan tahu jika saya memerlukan kebenaran yang ada di dalam ayat-ayat itu. Saya ingin membagi ayat-ayat ini biar Bapak / Ibu / Saudara / Saudari bisa diberkati seperti saya juga diberkati.

Ayat pertama adalah Yesaya 40:8. “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Meskipun kita melihat banyak hal yang berubah-rubah bahkan kacau di muka bumi ini, namun Firman Tuhan tidak berubah. Kita selalu bisa mendapat kebenaran di dalamNya, dan kita selalu bisa dibimbing olehNya. Kita tidak mungkin dapat tahu dari Firman Tuhan ada berapa kasus Covid-19 sebenarnya dan apakah Covid-19 ini direncanakan atau tidak. Tetapi kita bisa dapat banyak hal yang jauh lebih penting dan bermakna dari pada itu.

Ayat yang kedua yang saya dapat adalah Maleakhi 3:6(a). Ayat itu berbunyi demikian, “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah…” Meskipun waktu itu Tuhan berbicara sama orang-orang Israel lewat hambaNya Maleakhi, Dia juga berbicara dengan kita, ribuan tahun kemudian. Karena, ingat, Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya! Ayat ini adalah ingatan yang manis untuk kita, bahwa Tuhan punya kasih sayang, Tuhan punya kesetiaan, Tuhan punya anugerah, Tuhan punya kekuatan, dan Tuhan punya keadilan tidak berubah. Kita selalu bisa bersandar padaNya. Luar biasa kan?!

Di tengah-tengah kebingungan dalam pandemi Covid-19 ini, marilah kita semua pegang erat kepada dua hal yang sungguh baik dan yang bisa membuat kita merasa teguh dan nyaman. Yaitu, Tuhan kita yang sungguh setia dan tak berubah, dan FirmanNya yang juga tidak berubah dan membawa damai sejahtera ke dalam hidup kita.

Kalau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari menyukai arikel ini silahkan klik tombol “follow” atau tombol “subscribe via email” supaya bisa membaca artikel-artikel yang lain nanti. Terima kasih dan kiranya Tuhan memberkati kita semua!  

Wednesday, February 17, 2021

Amidst the Confusion

Lately I have been feeling more and more confused and unsettled. It feels like just over one year ago, when this thing called Covid-19 entered onto the scene of the history of the world, all things peaceful fled from my life. Since then, life has been filled with uncertainty, fear, constantly changing government policies and the like. Our children’s education looks way different, our church life has a totally different face, and our social life has decreased to almost nothing.

For me, the worst of it all is the confusion that I feel in my mind. I hear about and read about sometimes completely conflicting ideas, watch videos that completely oppose one another, and am aware that differing opinions are even dividing families. On the one extreme, I hear stories from relatives and friends about people who are severely ill and even dying of Covid-19 and that causes many people to feel afraid. I had to visit a doctor a while back and was surprised when I walked into his office, to see him wearing a hideous looking dark grey mask that covered almost his entire face. I thought to myself  that if I had taken my young daughter along with me I would not be surprised at all if she had run screaming in terror from the doctor’s office. I thought to myself, "Wow, what kind of world are we living in?!"

On the other extreme, I have read articles and watched videos of people expressing their belief that this pandemic was not only planned, but that it is actually a hoax, fed into by instilling fear by a biased, mainstream media and many false positives from the health sector. These opposing viewpoints make me feel so unnerved. I begin to fear that our world is spinning out of control. I don’t know what to believe anymore and the truth be told, I don’t know what sources I can truly trust to be reliable and factual.

But our God is good – so good!! I don’t believe that I stumbled upon the following verses by chance, but that God knew I needed them so He made sure that I would read them. He knew I needed the truths found within them. I want to share these two verses with you, so that you can be reminded of these truths as well.

The first verse is Isaiah 40:8. “The grass withers and the flowers fall, but the Word of our God endures forever.” No matter what chaos is taking place on this earth, I am soo soo thankful that the Word of our God is unchanging. We can always find truth there and we can always find guidance for our lives. We might not be able to find out how many true Covid cases there are or if this pandemic was planned or not, but we can sure find out many very important, useful, and encouraging things!

The second verse I found was Malachi 3:6(a). It says simply, “I the Lord do not change.” Even though God was speaking to the Israelites through His servant Malachi, He is also at the same time speaking to us, thousands of years later. Because, remember, the Word of our God stands forever! This verse is a sweet reminder that God’s love and faithfulness, His mercy, His grace, His power, and His justice are unchanging. How comforting that is!

Amidst the confusion of living in these crazy times, let us hold on tight to two things that can truly anchor us and give us both security and serenity – our faithful and unchanging God and the truth of His unchanging Word. 

If you liked this article and haven’t done so yet, please hit the “follow” button or click “subscribe via email”. Thank you and may God bless you all!

Monday, January 25, 2021

Orang Asing

    Saya telah tinggal sebagai orang asing di Indonesia selama hampir 22 tahun. Saya bersyukur karena sebagai orang asing di sini saya dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang yang dari latar belakang yang berbeda dari saya. Oleh sebab itu, saya dapat belajar banyak tentang berbagai perspektif yang berbeda, belajar bahasa-bahasa yang berbeda, dan mengenal budaya-budaya yang berbeda, bahkan dapat menikmati makanan-makanan yang enak dan lezat yang sebelumnya saya tidak pernah makan. Akan tetapi, ada hal-hal yang negatif juga, yang saya hadapi. Salah satunya, bahwa saya harus setiap kali mengurus ijin tinggal untuk tetap tinggal di sini. Baru-baru saya dapat masalah sedikit dengan hal itu dimana saya bisa dikeluarkan. Puji Tuhan akhirnya semua berjalan dengan baik.

    Baru-baru saya membaca dari satu dan dua Petrus di dalam Alkitab saya, dan disitu rasul Petrus menamakan orang-orang percaya sebagai orang asing. Dulu saya pernah membaca pasal itu, tetapi sekarang baru saya lebih pahaminya. Rasul Petrus katakan dalam 1 Petrus 1:17: "Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini ." Dan di dalam 1 Petrus 2:11 berbunyi: "Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantaukamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa." Sebagai orang asing, kami sepertinya bukan milik negara. Semua orang asing baik orang tua atau orang muda, mau orang kaya atau miskin, harus urus ijin tinggal untuk tetap tinggal di dalam negara. Rasul Petrus katakan kalau kita ikut Yesus Kristus kita harus sadar kalau kita adalah orang asing di bumi. Kalau kita orang milik dunia ini (orang dunia asli) maka kita akan ikut dunia dan mengikuti apa saja yang orang dunia buat, termasuk mengikuti keinginan-keinginan daging. Dia menasehati kita untuk menjauhkan diri dari keinginan-keinginan yang salah itu. Singkatnya, kita harus hidup takut akan Tuhan dan bukan takut akan apa yang dunia bilang.

    Saya mau ingatkan kita semua bahwa kita adalah orang-orang asing di dunia. Saya ingin mendorong kita semua untuk hidup sebagai orang asing, dengan kesadaran yang penuh bahwa kita tinggal di dunia ini hanya untuk sementara saja. Kewarganegaraan kita bukan di dunia ini tetapi kewarganegaraan kita adalah di sorga. Jadi mari kita berbuat baik kepada orang lain dan menghormati Tuhan - apapun terjadi - dengan mata dan hati tertuju ke rumah kita yang asli dan yang indah.    

    Kalau bapak / ibu / saudara belum membuatnya, saya memohon untuk diklik "follow" atau "subscribe via email" di sebelah kanan biar dapat membaca lagi artikel seperti ini. Dan, silahkan bapak / ibu / saudara menulis pendapatnya di bagian "comment" di bawa. Terima kasih bagi semua yang telah mensuport saya! Charis dan syalom.

Saturday, January 23, 2021

Strangers on this Earth

    Living as an expat in a foreign country has great advantages. You get to meet many new and wonderful people who have different backgrounds than you. You get to learn to communicate in another language, experience a different culture, and even expand your appreciation of different foods. However, it also brings into your life some stressful things, one being that you always have to be on your toes and fully aware of the status of your visa. Recently, I ran into difficulties with this and had quite a scare. I thought I might even get kicked out of the country.

    Let me try to explain to you how I felt when my status in this country was called into question. Besides being very frightened and in a state of shock, I also felt a depressing weight of sadness come over me. I thought to myself, 'No matter how long I live in this place, I will always be considered a stranger, a foreigner, one who doesn't really belong.' Those who belong here, no matter what mistake or evil thing they do, can never be kicked out of this country. They can certainly get punished but they cannot be kicked out.

    Recently I was reading the first and second books of Peter in my Bible and I came across the analogy of believers as foreigners. I had read it before, but I hadn't understood it as well as I did that day. "Since you call on a Father who judges each person's work impartially, live out your time as foreigners here in reverent fear" the apostle Peter says in I Peter 1:17. And further on, he adds "Dear friends, I urge you, as foreigners and exiles, to abstain from sinful desires, which wage war against your soul" (I Peter 2:11). As a foreigner, you don't really belong. You are usually only there for a while, and you always have to get permission to stay. For me, I always try my best to adjust to the culture, but people seem to shrug it off when I make blunders, because after all I am a foreigner. If you are a follower of Jesus Christ, Peter suggests that you see yourself as a foreigner and not as "authentic" people of the world. If we are truly people of this world, then we would belong, and we would let ourselves behave worldly, following sinful desires and doing whatever other people happen to be doing. Instead, he urges us to curb those sinful desires and live in reverent fear of our Creator. 

    I want to remind us all that we are foreigners on this earth and to encourage us to live as such, being fully conscious that we are only here temporarily. Our citizenship is not of this earth but our citizenship is in heaven. So let us do good to others and honor God while we are here -- no matter how tough things may get -- as we set our eyes and our hearts on our true and beautiful home. 

    If you haven't done so yet, and you enjoy reading articles like this, please click "follow" or "subscribe via email" on the right.. Also, please feel free to comment in the comment section below. Thank you all for your amazing support and encouragement!  

Friday, January 15, 2021

Ku Hilang Buta Bercela

     Saya tidak tahu pasti tetapi saya mengira bahwa semua orang buta pasti ingin sekali agar bisa melihat. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kalau saya menjadi buta. Saya berpikir saya pasti merasa sendirian dan pasti merasa gelap dan takut. Tetapi, apakah kita selalu menginginkan penglihatan secara spiritual? Apakah kita sadar bahwa kita sering buta karena kurang percaya Tuhan? Apakah kita sadar kalau kita sering berada di dalam keadaan gelap?

Yohanes pasal sembilan bercerita tentang seorang yang buta sejak lahirnya, lalu disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Pasal ini sulit dipahami tetapi yang saya tangkap dari pasal ini adalah bahwa banyak orang berpikir jikalau dia melihat tetapi sebenarnya dia buta, dan bahwa ada orang-orang tertentu yang sadar akan kebutaannya (secara spiritual) lalu dapat melihat. Laki-laki muda yang disembuhkan secara ajaib itu, sudah bisa melihat secara fisik. Tetapi dia tidak melihat benar-benar sampai dia mengatakan, “Aku percaya, Tuhan!” dan sujud menyembah Tuhan Yesus (ayat 38). Setelah itu, Yesus mengeluarkan satu statement yang luar biasa. “Kata Yesus, ‘Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, mendapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat menjadi buta’” (Yohanes 9:39).

Saya pernah kenal seorang yang tuna netra. Dia tidak beruntung dapat disembuhkan oleh Tuhan Yesus seperti laki-laki muda yang di dalam Yohanes 9. Tetapi itu tidak apa-apa. Sewaktu dia masih di bumi orang ini melihat hal-hal yang orang lain tidak dapat melihat. Sekarang dia sudah berada di sorga dengan penglihatan 100 % sempurna.

Orang yang buta itu dikenal dengan nama “Bapak Matheos”.  Bapak Matheos menjadi inspirasi untuk saya dan untuk banyak orang. Sejak kecil Bapak Matheos sudah buta. Dia lahir di kampung di Pulau Sabu, tiga saudara sekandung meninggal dunia waktu dia masih kecil, dan orang tuanya terpisah. Aduh, susahnya. Hidup di kampung, mengalami kematian tiga saudara, mengalami perceraian orang tua, dan dia dan Ibunya harus bersusah paya mencari nafkah sendiri. Itu saja sudah sulit Saudara, tetapi di atas itu semua dia tidak bisa melihat. Tetapi Bapak Matheos diajari tentang Tuhan, tentang pengampunan dosa lewat Yesus Kristus, dan dia percaya bahwa Bapa di sorga akan memeliharanya.

Bapak Matheos tidak menikah. Tetapi sebagai orang dewasa dia tinggal di kota Kupang dimana dia  bekerja sebagai tukang urut, secara khusus ke orang-orang turis di hotel. Yang sangat luar biasa adalah dari hasil usaha itu hampir setiap tahun Bapak Matheos kembali ke kampungnya di Sabu, dimana dia mencari anak-anak dari keluarga-keluarga yang kurang mampu dan dia membawa anak-anak itu ke rumahnya di Kupang dan membesarkan mereka. Banyak dari anak-anak itu mendapat pendidikan yang baik, bahkan ada yang menjadi polisi, penjahit, dan lain sebagainya, bahkan menjadi pelayan Firman yang luar biasa. Sebelum Bapak Matheos meninggal, ada 36 anak dari kampung pernah tinggal di dalam rumahnya yang dibimbing dan disekolahkan oleh Bapak Matheos. Kenapa dia mau buat begitu? Kenapa Bapak Matheos tidak menggunakan uang dari hasil jeri payahnya untuk membeli makanan yang enak atau membuat rumah yang sangat bagus dari pada membuat rumah yang lebih sederhana? Saya kira karena dia punya visi yang luar biasa. Dia merasa senang sekali kalau anak-anakmya itu dapat dibesarkan dengan baik dan menjadi produktif bagi gereja dan bagi masyarakat. Dia tahu kalau hidup ini bukan hidup yang terakhir tetapi ada kehidupan yang jauh lebih indah yang akan datang.

          Seringkali di dalam hidupnya, Bapak Matheos mendapat kesulitan yang berat. Tetapi dia kelihatanya sangat kuat menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Dia percaya bahwa Bapanya di Sorga melihat dia dan akan memeliharanya. Jadi dia terus taat kepada Tuhan dan melayani orang lain. Pertanyaan saya untuk diri saya sendiri dan untuk semua, apakah kita “melihat” seperti Bapak Matheos? Apakah kita merindukan untuk melihat secara spiritual sama seperti orang buta di dalam Yohanes 9 yang rindu untuk bisa melihat?

Saya ingin menutup tulisan yang sederhana ini dengan lagu "Ajaib Benar AnugerahMu" yang mengingatkan kita tentang betapa kita juga adalah hilang dan buta dan bercela. Marilah kita menyanyi lagu yang terkenal ini dengan penuh hikmat dan semangat:

Ajaib benar anugerah
Pembaru hidupku!
‘Ku hilang buta, bercela
Olehnya ‘ku sembuh.

Kalau Saudara menyukai artikel ini silahkan klik “follow” atau “subscribe via email” di sebelah kanan, supaya bisa mendapat artikel seperti ini lagi. Terima kasih kepada semua yang sudah subscribe. Charis dan Syalom. 

Sunday, January 10, 2021

Was Blind But Now I See

     I cannot know for sure, but I am guessing that at the very top of any blind person's wish list would be to be able to see. I have been asked the question before, if you had to choose between sight and hearing what would you choose? I know my answer would be sight. I don't want to minimize the huge loss that deaf people have to deal with, but for me I think losing my sight would be even worse. How lonely and scary it must be to forever be shut in darkness and to have to grope your way around to find things.

    I wonder, do we sincerely long for and desire spiritual sight? Do we realize how often we are blinded by lack of faith and grope around in spiritual darkness? John chapter nine is a difficult passage to grasp. I do not claim to understand it well even yet, but one point that I do get is that many people claim to see yet are actually blind, and that there are some who realize how blind they would be without Christ, and so really see. In that chapter, a young man blind from birth was healed by Jesus. He received what he had probably longed for all his life -- sight -- from Jesus. But he does not truly begin to "see" until he says, "Lord, I believe" and then worshiped Jesus (verse 38). Then Jesus gives a profound statement: "For judgement I have come into this world, so that the blind will see and those who see will become blind" (John 9:39). 

    I knew a blind man before. He was not so fortunate as the one in John 9 who received his sight miraculously from Jesus. But it didn't matter. While he was on earth, he saw things many others did not see. And now he has 20/20 vision in heaven. "Father Matheos" as he was called by everyone, was an inspiration to me. It is not quite clear if he was blind from birth, or if he became blind because of an early childhood illness. But one thing is clear, he didn't remember ever having been able to see. Life must have been very tough for a blind boy from a poor village on a poor island. He lost three siblings while he was still young and on top of all that his parents divorced. Young Matheos was left with mom who had to try and earn enough money to feed herself and him. It would have been hard enough living in his shoes without having been blind, but on top of it all he was also blind! But he was taught about God, and about forgiveness of sins through Jesus Christ, and he simply trusted that his Father in heaven would take care of him. 

    As an adult, Father Matheos lived in the city of Kupang, where he had built a house for himself, and he massaged tourists in nearby hotels to make a living. He regularly went to his little hometown on the island of Sabu to recruit under-privileged kids to take back with him to Kupang where he helped them get an education. Some of those kids' school fees were paid by their parents if they could afford it, but many came out of Father Matheos' own pocket. All told, before Father Matheos died, he had had 36 village kids live with him at some point in their lives and at the very least he influenced their character and walk with God, while a large percentage of them actually got an education. Why did he do it, we ask. Well he had a vision. He himself had not gone far with his education but he knew that learning to read and write would help these kids to read the Bible, know about God, and live a more productive life for their families, their churches, and their communities. So he preferred to eat plain rice and vegetables and live in a simple louse made of palm branches and palm leaves so that he could make a difference in their lives. And he knew that this life was not the end but that he would have a beautiful, eternal life later anyway.

    As Father Matheos grew older it was discovered that he was suffering from diabetes. He struggled with it until he died. His simple trust in God always amazed me. I knew he couldn't possibly pay his doctor visits and medicine with his meagre and often sporadic massaging money. So I began to give him money after church on Sunday when I knew that he needed to go back to the doctor that week. He was very grateful and would report back to me the following Sunday how it had gone. But one day there was an emergency. He was very sick and knew he had to go right away to the doctor. So he had one of his kids lead him to the doctor's office. He saw the doctor, who checked him over and gave him a prescription for more medicine, and then Father Matheos calmly explained to the receptionist that he didn't have enough money to pay at the moment. He explained that he knew a lady whom he was certain would pay it as soon as she found out about it. And the amazing thing is, the people behind the desk who heard the story simply smiled at him and gave him the help he needed! 

    Father Matheos often did not know how a thing could be possible, but he did not seem to worry about it. He believed that his Father in heaven was watching him and would care for him. And so he continued to be obedient to God and to faithfully serve, despite the appalling circumstances that he found himself in. My question to myself and to us all is, do we "see" like Father Matheos did? Do we long for spiritual sight with an intense longing, as blind people long to see with their physical eyes? Let's sing this song again with renewed understanding and fervor:

Amazing grace! how sweet the sound,
That saved a wretch like me!
I once was lost, but now am found,
Was blind but now I see...

    If you like this article and haven't done so yet, please click "follow" or "subscribe via email" to get more of my articles in the future. Thank you to all who have already done so.   

The Truth About Me

It dawned on me one day recently, that my sense of worth was tied up with a ton of "must do's" and "must not do's...