Wednesday, August 4, 2021

"Positive Thinking" Yang Sejati

Ijinkan mengawali artikel saya ini dengan pertanyaan ini: Bagaimana Bapak / Ibu / Saudara / Saudari melihat dunia ini? Apakah Bapak / Ibu / Saudara / Saudari melihatnya dengan perspektif bagaikan gelas yang setengah penuh atau dengan perspektif gelas yang setengah kosong? Saya harus jujur, saya terkadang melihat kehidupan ini dengan perspektif yang sedikit negatif. Jikalau benar-benar ada hal yang negatif, otak saya membuatnya lebih negatif lagi. Otak saya sering menganalisa secara mendalam dan melompat lalu berpikir sambil mengandai-andai tentang yang paling buruk, atau worst case scenario. Ini pergumulan pribadi saya yang sering saya pikirkan yang membuat saya makin mendekati diri saya ke Tuhan untuk mencari kekuatan dari Tuhan.

Tatkala saya melihat dengan perspektif gelas yang setengah kosong itu, di pihak lain suami saya justru berpikir yang berlawanan dengan cara pikirnya saya. Dia tidak berpikir gelasnya setengah kosong atau pun setengah penuh. Dia selalu melihatnya gelas itu sudah penuh! Suatu kali saya mengkritiknya dan menuduh dia bahwa dia terlalu positif atau idealistik atau over-optimistik. Tetapi dia membalas kritikan saya dengan berkata, "Ya, tetapi orang-orang ahli matematika menyuruh kita untuk estimasi ke nomor yang lebih besar tatkala angka persis di tengah kan? Jadi saya tidak salah." Saya pun kaget dan tertawa. Tetapi saya merasa bersyukur karena saya mendapat seorang partner yang bisa menolong saya untuk menjadi lebih balance. Suami saya sering menyuruh saya untuk "berpikir positif". Menurut saya, itu gampang untuk bicara, tetapi sulit untuk mempraktekannya. Itu membutuhkan perubahan pola pikir yang sungguh-sungguh radikal dan drastis. Bagi saya itu bukan hal yang gampang.

Akan tetapi, saya bersyukur karena minggu lalu saya membaca satu ayat Firman Tuhan yang luar biasa. Ayat itu sangat menolong saya untuk bagaimana mulai berpikir lebih positif. Ayat itu adalah Mazmur 119:64 yang mengatakan, "Bumi penuh dengan kasih setia-Mu, ya TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku." Bayangkan Bapak / Ibu / Saudara / Saudari -- bumi ini penuh dengan kasih Tuhan! Saya suka sekali kalimat itu! Tiap hari saya berpikir tentang kebenaran itu. Sekarang dari pada saya melihat sekitar saya yang membuat saya kawatir, sedih atau marah, lebih baik saya mencari kasih Tuhan itu. 

Beberapa hari yang lalu, saya merasakan kasih Tuhan waktu seorang teman mengirim saya pesan yang menguatkan. Saya juga sadar tentang kasih Tuhan tatkala saya membangun pagi setelah tidur yang enak dan melihat matahari bersinar lagi. Waktu saya membaca ayat-ayat Firman Tuhan yang memberikan jawaban untuk pergumulan saya, saya sadar bahwa itu juga bukti kasih Tuhan. Memang, saat ini saya sedang duduk sambil menulis blog ini di depan sebuah air terjun yang indah sambil mendengar bunyi suara alunan jatuhnya  air terjun itu yang begitu dahsyat. Itupun kasih Tuhan terhadap saya dan terhadap anak-anak saya yang sudah bosan di rumah karena peraturan PPKM yang masih berjalan terus. 

Memang, Bapak / Ibu / Saudara / Saudari , bumi ini penuh dengan kasih setia Tuhan! "Membuka mata-ku ya Tuhan, agar saya terus mencari bukti kasihMu di sekitar saya. Dan ajarlah saya, Tuhan, tentang ketetapan-ketetapanMu agar saya mendapat perspektif yang lebih jelas dan lebih benar supaya saya bisa melayaniMu dan melayani sesamaku dengan lebih semangat."

Kalau Bapak / Ibu / Saudara / Saudari ada teman atau saudara yang bisa diberkati dengan artikel ini, silahkan dishare linknya ya. Terima kasih atas dukungannya untuk tulisan saya di blog ini. Tuhan memberkati kita semua.... 

8 comments:

  1. Thank you ma sudah bersedia untuk membagikan hal ini. Tuhan Yesus memberkati ma dan keluarga selalu 🙏❤

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Terimakasih ibu Mare sudah mwngingatkan bahwa Kasih Tuhan itu luar biasa. Kita tak perlu overthinking tetapi harus selalu berpikir positif. Dalam kesederhanaanpun kita bisa merasakan kasih setia Tuhan.

    ReplyDelete

The Truth About Me

It dawned on me one day recently, that my sense of worth was tied up with a ton of "must do's" and "must not do's...