Friday, January 15, 2021

Ku Hilang Buta Bercela

     Saya tidak tahu pasti tetapi saya mengira bahwa semua orang buta pasti ingin sekali agar bisa melihat. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kalau saya menjadi buta. Saya berpikir saya pasti merasa sendirian dan pasti merasa gelap dan takut. Tetapi, apakah kita selalu menginginkan penglihatan secara spiritual? Apakah kita sadar bahwa kita sering buta karena kurang percaya Tuhan? Apakah kita sadar kalau kita sering berada di dalam keadaan gelap?

Yohanes pasal sembilan bercerita tentang seorang yang buta sejak lahirnya, lalu disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Pasal ini sulit dipahami tetapi yang saya tangkap dari pasal ini adalah bahwa banyak orang berpikir jikalau dia melihat tetapi sebenarnya dia buta, dan bahwa ada orang-orang tertentu yang sadar akan kebutaannya (secara spiritual) lalu dapat melihat. Laki-laki muda yang disembuhkan secara ajaib itu, sudah bisa melihat secara fisik. Tetapi dia tidak melihat benar-benar sampai dia mengatakan, “Aku percaya, Tuhan!” dan sujud menyembah Tuhan Yesus (ayat 38). Setelah itu, Yesus mengeluarkan satu statement yang luar biasa. “Kata Yesus, ‘Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, mendapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat menjadi buta’” (Yohanes 9:39).

Saya pernah kenal seorang yang tuna netra. Dia tidak beruntung dapat disembuhkan oleh Tuhan Yesus seperti laki-laki muda yang di dalam Yohanes 9. Tetapi itu tidak apa-apa. Sewaktu dia masih di bumi orang ini melihat hal-hal yang orang lain tidak dapat melihat. Sekarang dia sudah berada di sorga dengan penglihatan 100 % sempurna.

Orang yang buta itu dikenal dengan nama “Bapak Matheos”.  Bapak Matheos menjadi inspirasi untuk saya dan untuk banyak orang. Sejak kecil Bapak Matheos sudah buta. Dia lahir di kampung di Pulau Sabu, tiga saudara sekandung meninggal dunia waktu dia masih kecil, dan orang tuanya terpisah. Aduh, susahnya. Hidup di kampung, mengalami kematian tiga saudara, mengalami perceraian orang tua, dan dia dan Ibunya harus bersusah paya mencari nafkah sendiri. Itu saja sudah sulit Saudara, tetapi di atas itu semua dia tidak bisa melihat. Tetapi Bapak Matheos diajari tentang Tuhan, tentang pengampunan dosa lewat Yesus Kristus, dan dia percaya bahwa Bapa di sorga akan memeliharanya.

Bapak Matheos tidak menikah. Tetapi sebagai orang dewasa dia tinggal di kota Kupang dimana dia  bekerja sebagai tukang urut, secara khusus ke orang-orang turis di hotel. Yang sangat luar biasa adalah dari hasil usaha itu hampir setiap tahun Bapak Matheos kembali ke kampungnya di Sabu, dimana dia mencari anak-anak dari keluarga-keluarga yang kurang mampu dan dia membawa anak-anak itu ke rumahnya di Kupang dan membesarkan mereka. Banyak dari anak-anak itu mendapat pendidikan yang baik, bahkan ada yang menjadi polisi, penjahit, dan lain sebagainya, bahkan menjadi pelayan Firman yang luar biasa. Sebelum Bapak Matheos meninggal, ada 36 anak dari kampung pernah tinggal di dalam rumahnya yang dibimbing dan disekolahkan oleh Bapak Matheos. Kenapa dia mau buat begitu? Kenapa Bapak Matheos tidak menggunakan uang dari hasil jeri payahnya untuk membeli makanan yang enak atau membuat rumah yang sangat bagus dari pada membuat rumah yang lebih sederhana? Saya kira karena dia punya visi yang luar biasa. Dia merasa senang sekali kalau anak-anakmya itu dapat dibesarkan dengan baik dan menjadi produktif bagi gereja dan bagi masyarakat. Dia tahu kalau hidup ini bukan hidup yang terakhir tetapi ada kehidupan yang jauh lebih indah yang akan datang.

          Seringkali di dalam hidupnya, Bapak Matheos mendapat kesulitan yang berat. Tetapi dia kelihatanya sangat kuat menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Dia percaya bahwa Bapanya di Sorga melihat dia dan akan memeliharanya. Jadi dia terus taat kepada Tuhan dan melayani orang lain. Pertanyaan saya untuk diri saya sendiri dan untuk semua, apakah kita “melihat” seperti Bapak Matheos? Apakah kita merindukan untuk melihat secara spiritual sama seperti orang buta di dalam Yohanes 9 yang rindu untuk bisa melihat?

Saya ingin menutup tulisan yang sederhana ini dengan lagu "Ajaib Benar AnugerahMu" yang mengingatkan kita tentang betapa kita juga adalah hilang dan buta dan bercela. Marilah kita menyanyi lagu yang terkenal ini dengan penuh hikmat dan semangat:

Ajaib benar anugerah
Pembaru hidupku!
‘Ku hilang buta, bercela
Olehnya ‘ku sembuh.

Kalau Saudara menyukai artikel ini silahkan klik “follow” atau “subscribe via email” di sebelah kanan, supaya bisa mendapat artikel seperti ini lagi. Terima kasih kepada semua yang sudah subscribe. Charis dan Syalom. 

No comments:

Post a Comment

The Truth About Me

It dawned on me one day recently, that my sense of worth was tied up with a ton of "must do's" and "must not do's...