Saya tidak tahu pasti tetapi saya mengira bahwa semua orang buta pasti ingin sekali agar bisa melihat. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kalau saya menjadi buta. Saya berpikir saya pasti merasa sendirian dan pasti merasa gelap dan takut. Tetapi, apakah kita selalu menginginkan penglihatan secara spiritual? Apakah kita sadar bahwa kita sering buta karena kurang percaya Tuhan? Apakah kita sadar kalau kita sering berada di dalam keadaan gelap?
Yohanes
pasal sembilan bercerita tentang seorang yang buta sejak lahirnya, lalu disembuhkan
oleh Tuhan Yesus. Pasal ini sulit dipahami tetapi yang saya tangkap dari pasal
ini adalah bahwa banyak orang berpikir jikalau dia melihat tetapi sebenarnya dia
buta, dan bahwa ada orang-orang tertentu yang sadar akan kebutaannya (secara spiritual)
lalu dapat melihat. Laki-laki muda yang disembuhkan secara ajaib itu, sudah
bisa melihat secara fisik. Tetapi dia tidak melihat benar-benar sampai dia
mengatakan, “Aku percaya, Tuhan!” dan sujud menyembah Tuhan Yesus (ayat
38). Setelah itu, Yesus mengeluarkan satu statement yang luar biasa. “Kata
Yesus, ‘Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang
tidak melihat, mendapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat menjadi buta’” (Yohanes 9:39).
Saya
pernah kenal seorang yang tuna netra. Dia tidak beruntung dapat disembuhkan
oleh Tuhan Yesus seperti laki-laki muda yang di dalam Yohanes 9. Tetapi itu
tidak apa-apa. Sewaktu dia masih di bumi orang ini melihat hal-hal yang orang
lain tidak dapat melihat. Sekarang dia sudah berada di sorga dengan penglihatan 100 % sempurna.
Orang
yang buta itu dikenal dengan nama “Bapak Matheos”. Bapak
Matheos menjadi inspirasi untuk saya dan untuk banyak orang. Sejak kecil Bapak
Matheos sudah buta. Dia lahir di kampung di Pulau Sabu, tiga saudara sekandung
meninggal dunia waktu dia masih kecil, dan orang tuanya terpisah. Aduh,
susahnya. Hidup di kampung, mengalami kematian tiga saudara, mengalami
perceraian orang tua, dan dia dan Ibunya harus bersusah paya mencari nafkah sendiri. Itu
saja sudah sulit Saudara, tetapi di atas itu semua dia tidak bisa melihat.
Tetapi Bapak Matheos diajari tentang Tuhan, tentang pengampunan dosa lewat Yesus Kristus,
dan dia percaya bahwa Bapa di sorga akan memeliharanya.
Bapak
Matheos tidak menikah. Tetapi sebagai orang dewasa dia tinggal di kota Kupang
dimana dia bekerja sebagai tukang urut, secara khusus ke orang-orang turis di hotel. Yang sangat luar biasa adalah dari hasil usaha itu hampir setiap tahun Bapak Matheos kembali ke kampungnya
di Sabu, dimana dia mencari anak-anak dari keluarga-keluarga yang kurang mampu
dan dia membawa anak-anak itu ke rumahnya di Kupang dan membesarkan mereka.
Banyak dari anak-anak itu mendapat pendidikan yang baik, bahkan ada yang
menjadi polisi, penjahit, dan lain sebagainya, bahkan menjadi pelayan Firman yang luar biasa. Sebelum Bapak Matheos
meninggal, ada 36 anak dari kampung pernah tinggal di dalam rumahnya yang dibimbing dan disekolahkan oleh Bapak Matheos. Kenapa dia mau buat begitu? Kenapa Bapak Matheos tidak menggunakan uang dari hasil jeri payahnya untuk membeli makanan yang
enak atau membuat rumah yang sangat bagus dari pada membuat rumah yang lebih sederhana? Saya
kira karena dia punya visi yang luar biasa. Dia merasa senang sekali kalau
anak-anakmya itu dapat dibesarkan dengan baik dan menjadi produktif bagi gereja
dan bagi masyarakat. Dia tahu kalau hidup ini bukan hidup yang terakhir tetapi
ada kehidupan yang jauh lebih indah yang akan datang.
Seringkali di dalam hidupnya, Bapak Matheos mendapat kesulitan
yang berat. Tetapi dia kelihatanya sangat kuat menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Dia percaya bahwa Bapanya di
Sorga melihat dia dan akan memeliharanya. Jadi dia terus taat kepada Tuhan dan
melayani orang lain. Pertanyaan saya untuk diri saya sendiri dan untuk semua,
apakah kita “melihat” seperti Bapak Matheos? Apakah kita merindukan untuk
melihat secara spiritual sama seperti orang buta di dalam Yohanes 9 yang rindu untuk bisa melihat?
Saya ingin menutup tulisan yang sederhana ini dengan lagu "Ajaib Benar AnugerahMu" yang mengingatkan kita tentang betapa kita juga adalah hilang dan buta dan bercela. Marilah kita menyanyi
lagu yang terkenal ini dengan penuh hikmat dan semangat:
Pembaru hidupku!
‘Ku hilang buta, bercela
Olehnya ‘ku sembuh.
Kalau Saudara menyukai artikel ini silahkan klik “follow” atau “subscribe via email” di sebelah kanan, supaya bisa mendapat artikel seperti ini lagi. Terima kasih kepada semua yang sudah subscribe. Charis dan Syalom.
No comments:
Post a Comment